Setelah Laksamana Malahayati, Kowani Usulkan Ibu Sud Jadi Pahlawan Nasional

Politik  SENIN, 13 NOVEMBER 2017 , 03:22:00 WIB

Setelah Laksamana Malahayati, Kowani Usulkan Ibu Sud Jadi Pahlawan Nasional

Giwo bersama Presiden/Net

RMOL. Memaknai Hari Pahlawan sejatinya bukan pada tataran peringatannya saja atau hanya seremonial semata. Akan tetapi harus meningkat menjadi pemahaman dan implementasi sifat-sifat kepahlawanan untuk diteladani dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sesuai bidang tugas, profesi dan lingkungan masing-masing.

Demikian dikemukakan Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr Giwo Rubianto Wiyogo saat mengikuti upacara penganugerahan gelar pahlawan yang digelar di Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pada tahun 2017 ini, pemerintah memberikan penganugerahan gelar pahlawan kepada empat tokoh yang berjasa dalam proses sejarah Republik Indonesia yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Keempat tokoh yang mendapat gelar pahlawan berasal dari empat provinsi yang berbeda. Masing-masing adalah almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Nusa Tenggara Barat, almarhumah Laksamana Malahayati dari Aceh, almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan almarhum Lafran Pane dari DIY.

Presiden Jokowi memberikan plakat tanda jasa dan penghargaan gelar pahlawan nasional kepada para ahli waris di Istana Negara.

Ketum Kowani mengapresiasi tinggi dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah atas usulan   Kowani bekerjasama dengan Pemprov Aceh untuk pencalonan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional, sehingga dapat ditetapkan oleh Pemerintah RI pada momentum hari Pahlawan Nasional 2017.

"Momentum Hari Pahlawan ini bagi Kowani adalah hari nasional yang istimewa karena apa yang Kowani gagas, inisiasi, dan diperjuangkan tentang usulan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional perempuan, telah menambah jajaran  pahlawan nasional perempuan yang ke tiga belas," ungkap Giwo yang juga Ketua Umum Aliansi Pita Putih Indonesia ini seperti dalam keterangannya, Minggu (12/11).

Lebih teristimewa lagi, kata Giwo, dari emapt tokoh Pahlawan Nasional, hanya ada satu-satunya adalah perempuan yakni Laksamana Malahayati. Dia menghimbau kepada para anggota Kowani maupun perempuan Indonesia untuk meneladani semangat patriotik dan cinta tanah air dari pahlawan nasional khususnya pahlawan nasional perempuan. Bahwa pada situasi dalam era kekinian ini, lanjut Giwo, banyak sekali ditemukan tokoh-tokoh atau idola-idola yang digandrungi publik dari berbagai bidang adalah sebuah keniscayaan.

"Saya kira itu sesuatu yang lumrah dan wajar. Tetapi sebagai bagian dari sejarah pergerakan perempuan Indonesia, Kowani berkewajiban secara moril untuk mengingatkan kepada kaumnya bahwa role model dan idola serta panutan yang ideal adalah para pahlawan perintis kemerdekaan atau  pahlawan nasional khususnya berasal dari perempuan," jelas Giwo.

Kritisi terkait minimnya jumlah pahlawan perempuan Indonesia dibandingkan pahlawan pria pernah disampaikan Kowani pada waktu itu kepada Kementerian Sosial sebagai wakil pemerintah yang ditunjuk dan diberi tanggung jawab oleh konstitusi untuk mengurusi hal tersebut.

"Memang jumlah pahlawan perempuan nasional tidak sebanyak pahlawan pria. Dari total 169 pahlawan nasional, hanya 12 yang berasal dari perempuan," ungkap Mensos  Khofifah Indar Parawansa pada kesempatan kegiatan Kowani kala itu.

Dengan demikian, kembali Giwo meminta kepada seluruh stake holders untuk kembali kepada marwah yang sebenarnya bahwa pahlawan bukan sekadar jajaran nama-nama tetapi himpunan prestasi-prestasi mulia dimasa lampau yang sangat relevan dan universal pada masa kekinian untuk terus diteladani dan dijadikan sebagai role model dalam kehidupan keseharian, seperti bagaimana bertutur kata, berpikir, bertindak atau berperilaku,  berkarya, melakukan pengabdian terutama ketika berbicara dalam scope yang lebih luas dari lingkungan yang terkecil, masyarakat, warga, nusa, dan bangsa.

"Kepada para bijak bestari dan para cendikiawan serta insan yang bermulti talented bersatulah untuk membuat satu naskah tulisan atau film berdurasi panjang yang mampu memberikan pesan moral kepada generasi muda sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinan penerus bangsa, sehingga roh dan jiwa serta akhlak mulia para pahlawan mampu menjiwai setiap  perilaku dan tindak tanduk kita sehari-hari," pinta Giwo.

Mantan Ketua KPAI ini juga memberikan masukan kepada pemerintah agar betul-betul mengambil peranan yang sangat vital untuk memberikan perhatian yang utuh, menyeluruh, dan terpadu bukan sekadar mengeluarkan daftar pahlawan-pahlawan dan memperingati Hari Pahlawan secara seremonial belaka melainkan menulis secara tuntas riwayat dan sepak terjang masing-masing pahlawan secara detail namun mudah disosialisasikan baik  melalui media cetak dan atau media elektronik dan lain-lain serta ditransformasikan melalui pendidikan formal maupun pendidikan non-formal.

"Jika hal tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka saya yakin dan percaya peringatan hari pahlawan akan dipenuhi oleh para peserta dengan antusias dan mendapat respon secara masif dari publik," tegas Giwo.

Untuk itu, menantu Gubernur DKI Wiyoga Atmodarminto ini meminta agar pelaksanaan dan sosialisasi melalui pendidikan formal maupun pendidikan non-formal terus digencarkan.

"Jadi memperingati hari pahlawan bukan sekadar pada upacara seremonial belaka tetapi lebih pada pemaknaan dan implementasi sifat-sifat kepahlawanannya untuk diteladani dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sesuai bidang tugas, profesi dan lingkungan masing-masing, karenanya Kowani memohon dukungan kepada seluruh anak bangsa dan stakeholders terkait di masa mendatang karena secara berlanjut, bertahap, dan berkesinambungan akan terus mengusulkan pahlawan nasional perempuan sesuai dengan waktunya," urai Giwo.

Giwo juga menyebut bahwa gerakan perempuan termasuk Kowani sebagai motor penggerak pada tahun yang akan datang akan mengusulkan kembali pahlawan perempuan nasional yang dikenal sebagai seniman, tidak lain lain adalah Suridjah Niung atau sangat dikenal sebagai Ibu Sud yang juga pencipta lagu Nasional Indonesia yang populer sampai sekarang yakni "Tanah Airku".

Sedangkan Keumalahayati atau lebih dikenal dengan Laksamana Malahayati diusulkan oleh Kowani mengingat beliau adalah seorang perempuan pemberani dengan simbol kesetaraan gender. Ia juga dikenal sebagai tokoh pemberani, mampu membangkitkan semangat pasukan, ahli strategi dan diplomasi.

"Bayangkan dia menjadi panglima perang di laut. Sebagai pejuang perempuan yang luar biasa memimpin lebih dari 100 armada laut. Setiap kapalnya itu ada sekitar 300-500 pasukan "inong bale" (para janda perang) pada saat melawan portugis di abad ke-15," jelas Giwo.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga pernah menyebut bahwa pada abad ke-15, Malahayati merupakan lulusan akademi angkatan laut di Aceh. Keberanian Malahayati, kata Gatot, ditunjukan dengan menusukkan senjata rencongnya kepada laksamana musuh. Panglima juga menyebut kalau Malahayati adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai intelijen kerajaan. Menurut informasi, Malahayati merupakan orang yang membunuh Cornelis de Houtman, dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada peperangan Inong Balee tanggal 11 September 1599. TNI Angkatan Laut berencana membuat film tentang Laksamana Malahayati.

Giwo menyebut kisah Laksamana Malahayati tak hanya mengukir sejarah tetapi menjadi contoh perjuangan bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kesetaraan gender yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu, sehingga dapat menjadi contoh generasi penerus bangsa.

"Saya ingin jiwa ini juga merasuk ke perempuan Indonesia sehingga pantang menyerah dan mampu menjadi 'Panglima Perang' dalam memerangi berbagai kesulitan dan tantangan modernisasi secara mantap, mapan dan masif sehingga akan lahir Malahayati-Malahayati baru menyesuaikan zaman dan era kekinian di semua sektor kehidupan lainnya," ucapnya.

Giwo menambahkan Malahayati sebagai laksamana perempuan pertama sejatinya dapat dijadikan sebagai role model Kowani dalam konteks bahwa perempuan Indonesia memerlukan idola hati sebagai role model yang ideal karena pahlawan tentu memiliki segala kelebihan yang dijamin sangat layak untuk diteladani selain karena sudah diseleksi secara nasional sebagai Pahawan Nasional.

Apalagi dalam Nawa Cita Pemerintahan Jokowi-JK menegaskan bahwa pembangunan poros maritim dunia terus digenjot dan diwujudkan. Maka perempuan Indonesia harus berperan aktif dalam momentum itu serta bisa menjadi lokomotif perubahan seperti sifat-sifat kejuangan dan patriotik seorang Malahayati yang juga merupakan laksamana perempuan muslimah pertama di dunia. [Ruslan/rus]

Komentar Pembaca