Aman Abdurrahman Tolak Dikaitan Dengan Bom Thamrin

Hukum  RABU, 30 MEI 2018 , 19:48:00 WIB

Aman Abdurrahman Tolak Dikaitan Dengan Bom Thamrin

Aman Abdurrahman/net

Terdakwa kasus Bom Thamrin, Aman Abdurrahman, tetap berpandangan bahwa dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) tidak sesuai dengan fakta persidangan.

Hal ini merupakan duplik alias tanggapan dari replik JPU, yang dinyatakan langsung oleh Aman dalam sidang lanjutan perkara tindak pidana teror di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (30/5).

Menurut Aman, dirinya tidak takut menjalani putusan pidana terkait pemahamannya yang mengkafirkan pemerintah. Namun, untuk dakwaan keterlibatannya dalam serangkaian bom, tidak satupun dinyatakan dalam fakta persidangan.

"Kalau saya mengajarkan mereka untuk bertauhid, dan yang lainnya mendukung khilafah, silakan pidanakan sesuai keinginan anda semua," ungkap Aman.

Aman kembali menegaskan bahwa dirinya tidak gentar atas vonis yang akan dijatuhkan majelis hakim lantaran merasa tidak bersalah atas Bom Thamrin, juga beberapa aksi teror bom yang dituduhkan JPU kepadanya.

"Kalau dikaitkan dengan kasus semacam itu, dalam persidangan, satupun tidak ada yang dinyatakan keterlibatan saya," tegas Aman.

Aman dituntut hukuman mati oleh JPU. Aman didakwa sebagai aktor intelektual lima kasus teror, yaitu Bom Gereja Oikumene di Samarinda pada 2016, Bom Thamrin (2016), Bom Kampung Melayu (2017), serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017).

Di sisi lain, Tim JPU pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan memastikan tuntutan yang dilayangkan kepada terdakwa Aman Abudurrahman memperhitungkan keadilan.

Hal ini untuk menjawab pleidoi Aman yang mengatakan dakwaan JPU yang mengaitkan dirinya dengan serangkaian aksi bom adalah perbuatan zalim.

Jaksa Anita menjelaskan Aman telah menerjemahkan 150 tulisan tauhid dari Islamic State of Iraq (ISIS) ke dalam bahasa Indonesia.

Berdasarkan keterangan saksi, terdakwa memiliki pengikut setia dan pendukung. Meskipun berada di lembaga pemasyarakatan, terdakwa tetap dikunjungi oleh orang yang bersepaham dengan terdakwa.

JPU juga menilai pemahaman radikal disusun ke dalam buku berseri Tauhid dan sengaja dibuat dalan blog khusus.

Tulisan terdakwa dalam buku seri tauhid bukanlah ajaran tauhid pada umumnya, melainkan ajaran yang menilai Pancasila sebagai syirik.

Ajaran yang disampaikan terdakwa telah mengakibatkan kerusakan fasilitas publik, yang tercermin dari ciri-ciri korban yang dimaknai sebagai amaliyah jihad.

"Kami tim JPU dapat menepis anggapan bahwa tindakan penuntutan yang kami lakukan adalah perbuatan zalim kepada terdakwa," kata JPU Anita saat pembacaan replik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan itu, Jaksa pun membantah pernyataan Aman dalam pleidoinya yang mengaku sudah diisolasi sejak Februari 2016 sehingga keterlibatan dirinya dalam aksi terorisme yang dituduhkan jaksa tidak mungkin terjadi.

Menurut Jaksa, pernyataan tersebut tidak bisa dijadikan alibi untuk lepas dari tuntutan pidana mati.

"Bahwa peristiwa kasus Medan yang dimaksud terdakwa adalah pembunuhan anggota polisi dan pembakaran Mapolda yang dilakukan Syawaluddin yang tidak lepas dari pengaruh terdakwa," kata Anita.

Atas jawaban pleidoi Aman, JPU meminta majelis hakim untuk menolak seluruh pembelaan terdakwa. JPU menilai Aman terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme seperti dakwaan kesatu primer dan dakwaan kedua primer.

JPU tetap pada tuntutan agar majelis hakim memutuskan pidana mati terhadap Aman karena terbukti menggerakkan orang lain untuk melakukan berbagai aksi terorisme. [ald]

Komentar Pembaca
Anies-Riza Terima Bantuan Covid-19

Anies-Riza Terima Bantuan Covid-19

KAMIS, 16 APRIL 2020 , 14:15:00

Karangan Bunga Wartawan Untuk Riza Patria

Karangan Bunga Wartawan Untuk Riza Patria

RABU, 15 APRIL 2020 , 17:03:00

Persiapan Pemilihan Wagub

Persiapan Pemilihan Wagub

KAMIS, 02 APRIL 2020 , 12:39:00