Ahmad Riza Patria, Pekerja Keras Yang Tak Pernah Mengeluh

Suara Rakyat  KAMIS, 30 JANUARI 2020 , 09:14:00 WIB

Ahmad Riza Patria, Pekerja Keras Yang Tak Pernah Mengeluh

Ahmad Riza Patria/Net

SUATU hari, sekitar tahun 1995, ada seremonial pelantikan Komandan Batalyon (Danyon) 15 Resimen Mahasiswa (Menwa) ISTN, Jayakarta di kampus ISTN yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sebagai anggota Menwa yang terbilang masih junior, saya turut menghadiri acara tradisi organisasi itu mewakili Satuan Resimen Mahasiswa (Menwa) Yon 17 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Jakarta, tempat dimana saya aktif.

Dan disanalah pertama kalinya saya mendengar nama seorang figur yang namanya masuk dalam kontestasi suksesi Wagub DKI Jakarta pengganti Sandiaga Uno.

Nama itu adalah Ahmad Riza Patria atau sering disingkat A Riza Patria, dan saat ini publik mengenalnya sebagai Ariza Patria. Para sahabat dekatnya terkadang menyebut inisial AZ saja.

Ariza inilah yang dilantik menjadi Danyon 15 Menwa ISTN, diacara tersebut. Saat itu, tentu saja Ariza belum mengenal saya, seorang junior yang turut hadir di tengah keramaian kegiatan itu.

Meski tidak mengenal langsung waktu itu, namun pertemuan singkat dalam acara tersebut telah menanamkan kesan mendalam tentang figur Ariza. Seorang yang baik, tenang, sangat santun, relatif pendiam, cerdas dan ramah, begitu pendapat saya dulu ketika menjabat tangannya saat ucapkan selamat.

Sayangnya kamera handphone belum ada pada zaman itu, sehingga tidak sempat berselfie ria.

Kemudian, masa reformasi 1998 bergulir, saya selesaikan kuliah ditengah suasana negeri yang bergolak dan saya pun turut larut dalam pergolakan itu.

Awal tahun 2000, saya sedikit banting stir, dari aktivis mahasiswa menjadi aktivis pemuda. Ya, karena background organisasi kemahasiswaan saya turut melebur dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DKI Jakarta.

Atas nama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DKI Jakarta saya terekomendasi masuk wadah berhimpun pemuda Indonesia ini, meski tidak terlalu aktif.

Disinilah samar-samar kembali saya mendengar nama Ariza Patria, beliau aktif di KNPI, baik di DPP maupun di DPD KNPI DKI Jakarta. Sebelumnya bahkan aktif pula di KNPI Jakarta Pusat.

Beliau merintis dunia aktivis kepemudaannya dari nol. Setelah pertemuan pertama lima tahun sebelumnya, saya bertemu Ariza kembali. Tapi lagi-lagi sepertinya beliau belum begitu mengenal dekat saya, hanya sepintas lalu saja. Nasib, seorang anak bawang.

Aktivis Pemuda Jakarta Number One

Tahun 2002, Ariza maju mencalonkan diri menjadi Ketua KNPI DKI Jakarta. Pendekatannya terhadap berbagai organisasi kepemudaan (OKP) yang berhimpun cukup bagus. Sebagai calon pemimpin KNPI, beliau tidak terkesan show of force meski telah berprofesi sebagai pengusaha muda dan berlatar belakang keluarga berada dan terpandang.

Lobi-lobi politik ala KNPI berjalan cukup rapi dengan manajemen pertemuan yang cukup memuaskan oleh timsesnya, seperti diantaranya Gati Pitoyo dan A. Khalid.

Saya yang saat itu mewakili GMNI Jakarta pun turut dirangkulnya dengan gaya yang simpatik. Pertemuan lobi menjelang Musda sederhana saja. Cukup di warung-warung tenda pinggiran Menteng, bukan di café-café mewah.

Kesan saya padanya bertambah, Ariza ini merakyat, padahal saat itu beliau termasuk fungsionaris HIPMI. Gimana tidak, bayangkan saja ditahun itu Ariza adalah seorang principal (owner) Ray White Casablanca. Sebuah perusahaan properti terkemuka di kawasan segitiga emas dan direktur beberapa perusahaan lainnya.

Menjelang Musda KNPI, Ariza biasa mengajak pertemuan dan menjamu calon pemilihnya di café atau restoran hotel mewah. Tapi sebagai Marhaenis, saya justru mengajak Ariza bertemu dengan teman-teman GMNI di warung tenda pinggir jalan, dan terbukti Ariza woles aja, yang dikemudian hari ternyata gaya itu (kesederhanaan) juga tak hilang dari dirinya.

Walhasil, jadilah Ariza Ketua KNPI DKI Jakarta periode 2002-2005, dan saya turut juga jadi salah satu staf kepengurusannya. Jabatan saya di kepengurusan sih biasa aja, tidak terlalu mentereng. Tapi peran saya loh jadi luar biasa (sibuknya). Karena dapat dikatakan nonstop mendampingi Ariza.

Mulai dari turut menghadiri atau bahkan mewakili hadir di berbagai kegiatan atau pertemuan organisasi, menjadi kepanitiaan, bahkan turut mengetik surat-surat atau konsep keorganisasian termasuk naskah-naskah sambutan Ketua KNPI DKI Jakarta jika ada acara, semalaman suntuk.

Hingga akhirnya markas KNPI menjadi rumah kedua saya. Sering juga mengerjakan tugas di kantor Ray White-nya Ariza di Jalan Dokter Satrio, Casablanka.

Sering juga Ariza, Sang Ketua ini tidak pulang, menemani kita-kita hingga ketiduran di kantor. Gegara ini, para aktivis pemuda senior Jakarta yang sesama pengurus KNPI seperti Rachmat HS, Rudi Darmawanto, Ivan Parapat, Sohan Gumay, Andi Iskandar dan banyak lainnya sering menjuluki saya sebagai ajudan atau tangan kanannya Ariza Patria (ampun senior).

Padahal saya merasa sama saja dengan yang lain di mata Ariza, tak ada perlakuan khusus terhadap saya dari Ariza. Beliau sangat egaliter. Memang sih, bisa dikatakan saya ini full twenty four hour membantu Ariza urusin pemuda Jakarta.

Singkat kata, dari sini saya bisa menilai bahwa Ariza adalah sosok pekerja keras yang tidak mengenal waktu. Jika sedang mengeluti sesuatu, beliau akan fokus dan serius, meski sesekali bercanda juga.

Tidak pernah membedakan kawan, orangnya tidak suka konflik dan seringkali mengalah untuk menjaga kebersamaan. Dalam pergaulan, tokoh yang satu ini santun keatas dan santun kebawah, tidak banyak meminta justru banyak memberi.

Loyalitas dan royalitasnya balance. Secara fisik pun beliau pribadi yang dianugerahi kesehatan yang luar biasa, jarang sakit karena beliau memang bukan pribadi yang suka merokok atau ngopi. Jarang saya melihat aktivis yang tidak merokok dan tidak minum kopi. Bentuk-bentuk kenakalan anak muda umumnya hampir tidak ada di dirinya, marahpun jarang terdengar apalagi bersikap emosional mungkin karena anak kyai kali ya.

Tapi memang begitu faktanya, beliau putra sulung KH Amidhan, tokoh di Majelis Ulama Indonesia, yang biasa kami menyebut beliau dengan panggilan Abah. Hingga saya pun betah terus mendampingi Ariza. Ada seorang kawan iseng bertanya, dapat apa sih bantu Ariza hingga segitunya? Saya jawab simpel, dapet ilmu, jaringan dan pengalaman. Esensinya, bagi dunia aktifitas pemuda Jakarta, Ariza Patria adalah sosok panutan.

Paham Politik Lokal Ibukota Menjelang pemilu 2004, Ariza terpilih menjadi Jomisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. Disini qua-intelektualnya berbicara, terbukti tidak gampang bisa lolos seleksi menjadi anggota KPU tingkat ibukota negara. Dibutuhkan kecerdasan dan keluwesan, tidak semata mengandalkan jaringan atau koneksi sosial yang harus dimiliki.

Menjadi komisioner KPU bersama Mohamad Taufik, Juri Ardiantoro dan lainnya, kesibukan Ariza bertambah banyak, hingga akhirnya banyak teman-teman lain yang dilibatkan membantu.

Saya kebagian tugas tetap mengurus KNPI saja bersama pengurus yang lain. Seperti biasa beliau pun larut dengan kefokusannya dalam bekerja.

Menjadi komisioner KPU Jakarta menjadikan Ariza paham akan peta politik lokal dan dinamika pemerintahan di ibukota negara. Selagi sibuk urus KNPI dan KPU Jakarta, masih sempat pula Ariza ini turut membantu Adhyaksa Dault, tokoh senior aktivis pemuda yang saat itu menjadi Menpora RI dalam kabinet SBY periode pertama.

Karena baru dibuka lagi kementerian tersebut setelah sebelumnya ditiadakan, maka sibuklah Ariza dan teman-teman membantu Pak Menpora menyiapkan perangkat keorganisasian kementerian yang baru ada lagi tersebut. Sikap tanpa pamrih dan loyalitas Ariza terlihat disini.

Tuhan menguji umatnya dengan berbagai cara. Saat sebagai fungsionaris KPU inilah, Ariza tersandung kasus dugaan korupsi anggaran pemilu dan sempat ditahan beberapa waktu. Namun dikemudian hari oleh pengadilan dinyatakan bebas murni, karena terbukti tidak bersalah. Kondisi ini sangat berat, tidak hanya dirasakan oleh Ariza dan keluarga tetapi juga teman-teman dekatnya. Kehidupan sosialnya terpuruk.

Namun beliau tidak mengeluh atau meratapi nasibnya yang buruk. Tetap tabah dan tegar seperti kebiasaannya. Ujian berat itu akhirnya pun berlalu. Sayangnya, sekarang ini isu basi yang telah memfosil ini digoreng kembali oleh para buzzer. Ampun deh.

Bangkit Kembali Bersama Menwa

Mulai tahun 2006, Ariza bangkit kembali, menata jalan hidupnya sebagai aktivis pemuda senior. Bersama kawan-kawan Menwa yang notebene juniornya seperti Arwani Deni, Raden Umar, Hassan, Rano Karno, Yudha Luqisanto, Lukman Hakim, saya dan banyak lagi yang lain, Ariza turut prihatin terhadap kondisi organisasi Menwa yang juga lama terpuruk paska reformasi.

Perhatian beliau sangat besar untuk menghidupkan kembali pembinaan Menwa se-Indonesia yang tidak lagi di urus negara semenjak reformasi. Meskipun perhatian itu masih dibelakang layar, karena Ariza memang bukan tipikal pemimpin yang suka pencitraan.

Kesempatan selalu terbuka, dan dibukakan pintu yang selebarnya oleh Sang Khalik. Akhirnya dalam Rapat Komando Nasional (Rakomnas) Menwa Indonesia, Ariza didapuk menjadi Komandan Komando Nasional Resimen Mahasiswa Indonesia atau biasa disingkat Dankonas. Beliau memang tepat memimpin perjuangan membangkitkan kembali Menwa se-Indonesia, karena pada dasarnya Ariza juga dibesarkan diwadah kaum muda bela negara ini.

Saya pun menghilang beberapa waktu setelahnya. Hingga kemudian di awal tahun 2007 saat Jakarta dilanda banjir besar, dan Menwa membuka posko bantuan banjir di Kampung Melayu, saya dipanggil kembali oleh Ariza dan diminta kesediaannya untuk mendampinginya sebagai Wakil Komandan Konas Menwa Indonesia.

Saya tidak langsung mengiyakan, siapa sih saya? Namun teman-teman yang lain turut mendesak. Karena saya dianggap figur yang handal dalam hal administratif keorganisasian dan kebetulan pula paling lengkap memiliki kualifikasi pendidikan kemenwaan dari mulai Latsarmil, KDS, Suskalak, Suskapin dan pendidikan kemenwaan lainnya.

Tak lama setelah Rakomnas Menwa Indonesia, dan terpilih sebagai Komandan Menwa se-Indonesia, Ariza dan jajaran pengurus Konas Menwa Indonesia menggelar agenda Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) Menwa Indonesia, yang dalam sesi seminar menghadirkan banyak narasumber dari kalangan pejabat pemerintahan dan tokoh nasional, diantaranya hadir Prabowo Subianto.

Sebagai mantan petinggi militer, Prabowo cukup terkesan dengan Menwa yang terdiri dari anak-anak muda bersemangat bela negara dan memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni. Kesan itu bertambah saat mengetahui bahwa organisasi kemahasiswaan yang berjiwa spartan ini dipimpin sosok muda seperti Ariza Patria dengan segala sifat positifnya.

Sebelumnya juga mereka sudah saling mengenal. Tetapi momentum itulah yang kemudian menjadi starting point kedekatan Ariza dan Prabowo.

Menjadi Politisi Yang Mumpuni

Semenjak itu Ariza aktif mengikuti Prabowo hingga lahir dan besarnya Partai Gerindra sebagai sebuah partai politik yang cukup disegani di Republik ini. Karir politik Ariza terasah tajam disini, hingga dua periode menjadi Anggota DPR RI mewakili Dapil Cianjur dan Kota Bogor dari partai berlambang kepala burung Garuda ini.

Dan yang ini penting diketahui, sebagai Komandan Menwa Indonesia, Ariza tidak pernah membawa organisasi ini ke ranah politik apalagi mengarahkan personel Menwa menjadi anggota Partai Gerindra.

Ariza paham betul, bahwa pembinaan Menwa aktif harus seratus persen mendalami sikap kedisiplinan, jiwa korsa, loyalitas serta wawasan kebangsaan, nilai-nilai perjuangan 45, patriotisme dan nasionalisme dengan semangat bela negara yang juga ditambahkan mengasah kemampuan fisik dengan skill kemampuan militer dan sebagai upaya melanjutkan perjuangan Tentara Pelajar semasa perang kemerdekaan dulu.

Dan pilihan profesi Ariza sebagai politisi tidak lantas semaunya melabrak rambu-rambu pembatas. Baginya memimpin organisasi Menwa dan menjadi politisi adalah dua jalan berbeda yang berujung sama yaitu pengabdian pada negara dan bangsa tercinta.

Meskipun untuk Menwa tidak ada orientasi profit, bahkan seringkali tekor. Tapi itulah yang namanya berani berkorban. Sampai saat ini, dengan energi positif yang kuat dari Ariza Patria, Menwa sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang terlupakan dan nyaris bubar, menjadi tumbuh berkembang dan hidup kembali di seluruh Tanah Air. Bahkan disebuah provinsi yang tidak pernah ada Menwa sebelumnya telah berdiri pula kesatuan Menwa-nya. Kampus yang sebelumnya tidak ada Menwa, muncul kembali Menwa nya.

Banyak alumni-alumni Menwa di daerah yang telah menjadi tokoh dari berbagai lapisan masyarakat turut terinspirasi dari energi semangat ini dan kemudian berpartisipasi membantu membangun serta membesarkan Menwa di daerah masing-masing hingga ke level nasional.

Dari momentum ini saya berani jamin, kalau soal kemampuan leadership, Ariza Patria cukup jempolan.

Alam Semesta Mengatur

Kembali kepada soal suksesi Wakil Gubernur DKI Jakarta yang sedang ramai saat ini, jika boleh disimpulkan cerita saya yang panjang kali lebar diatas, maka saya berfikir bahwa mungkin garis tangan seorang pekerja keras yang tidak pernah mengeluh seperti Ariza Patria ini memang begitu kali ya.

Jawaban Tuhan Yang Maha Esa bagi hambanya yang sabar dan ulet itu selalu ada, dan terjadi di tahun 2020 ini untuk seorang Ariza Patria.

Saya jadi ingat dulu ditahun 2012, Dankonas Menwa Indonesia ini belum jadi Anggota DPR, tidak memiliki deposit logistik yang besar untuk menghadapi pilkada DKI Jakarta, tapi beliau berhasil maju sebagai salah satu kostestan pilkada sebagai cawagubnya Hendardji, seorang purnawiran jenderal TNI AD yang jadi salah satu Cagub ibukota.

Saat itu saya memang tidak berada dalam lingkaran timsesnya. Ariza sendiri yang memerintahkan saya berada diluar tim, membantu Fauzi Bowo yang juga mantan Ketua Umum saya di Bamus Betawi.

Tidak elok diluaran, kalau Dankonas maju dalam kontestasi politik, Wadankonas jadi timsesnya, nanti yang urusi Menwa siapa? Dan Jika sebagai anak Betawi ingin jalankan hak politiknya ya silahkan, lebih bagus kalo Wadanko bantu Fauzi Bowo aja, itu fatsun politiknya.

Nanti setelah ini semua (pilkada) selesai juga normal-normal lagi. Begitu dulu kata Ariza kesaya. Jadi saat kembali bertemu dalam urusan Menwa, kami satu sama lain tidak bicara soal kesibukan politik masing-masing. Sungguh, luar biasa jiwa besarnya, tidak mementingkan diri sendiri dan memaksa kadernya untuk harus berjuang untuk kepentingannya.

Dari sini bisa di lihat bahwa Ariza Patria sangat menghargai keberagaman dan perbedaan pendapat. Disini pula saya mendapatkan pembelajaran lagi tentang porsi, peranan serta strategi politik dan jiwa besar. Pada akhirnya, beliau belum berhasil menjadi Wagub periode 2012-2017, mengingat lawan-lawan politik lainnya adalah ‘para raksasa’ yakni Fauzi Bowo dan Joko Widodo (yang kemudian menjadi Gubernur dan terus Presiden).

Dan kini disaat Ariza fokus dengan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat dan tak berambisi untuk menjadi salah seorang pemimpin pemerintahan di ibukota, tiba-tiba jabatan itu seakan menghampirinya.

Pimpinan Partai Gerindra mengamanatkannya untuk menjadi Wakil Gubernur pendamping Bang Anies. Dan salah satu yang cukup kuat mendorong hal ini adalah Mohamad Taufik, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, yang merupakan konco lawas dan senior Ariza Patria saat di HMI, KNPI dan rekan sekerja saat menjadi Komisioner KPU Jakarta.

Jadi ada jaminan komunikasi yang baik dan visioner buat Jakarta. Jika sudah begini, siapa yang mengatur? Wallahu a’lam, ini semua kehendak Sang Pencipta Alam Semesta.

Harapan Kita Semua

Pembaca sekalian yang budiman, menurut saya jika sekarang Ariza Patria akhirnya didorong oleh Gerindra menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta di periode yang tersisa ini, selain merupakan sebuah konsekuensi logis dari realitas politik juga merupakan hal natural yang sangat tepat.

Selain tidak kita kesampingkan pula bahwa semesta pun mendukung. Kehendak Illahi seakan menggariskan demikian. Tapi tetap saja ada yang mencoba melawan arus, biarlah itu sebuah dinamika.

Semoga saja Ariza menjadi Wakil Gubernur kita yang amanah dan berintegritas tinggi mendampingi Anies memimpin pembangunan Jakarta. Yang jelas, catatan saya sekedar menegaskan bahwa, selain politisi, Ariza ini selalu berorientasi akan pembangunan (keberhasilannya membangun Menwa yang nyaris bubar), tidak buta peta Jakarta (mantan Ketua KNPI dan Anggota KPU), berkemampuan akademis, paham masalah-masalah ekonomi (ingat, basic pengusaha beliau sebelum total jadi aktifis), strong leadership (banyak memimpin berbagai organisasi), relijius (track record keluarga bisa ditelusuri), relatif populis (menjadi juru bicara Gerindra diberbagai kesempatan), Bisa dan biasa bekerjasama baik sebagai atasan maupun bawahan dan berbagai sifat dan sikap kepribadiannya yang menebarkan aura positif.

Jadi saat saya pernah bertanya padanya tentang maraknya buzzer, cuitan orang di medsos bahkan ancaman demo yang menyerang dirinya terkait nominator dirinya sebagai Cawagub, Ariza Cuma berkomentar singkat, biarin aja Wadan!!

Bukan Ariza yang saya kenal kalau menghadapi soal serangan beginian menjadi panik terus kalap n nyerang balik.

Seperti biasa beliau nyantai aja, tetap fokus pada garis perjuangannya. Doakan selalu agar harapan kita semua tercapai, memiliki Wakil Gubernur Jakarta yang baik, cerdas, berani, pro-rakyat dan bisa bersinergi positif mendampingi Anies Baswedan yang cukup lama menjomblo dalam memerintah ibukota.

Saya berani sumpah, yang saya ceritain tentang Ariza ini memang apa adanya yang saya alami. Good luck, commandant! Saluttt!![dod]

Erwin H. Al-Jakartaty

Komentar Pembaca