Kesaksian Tentang Proses Megawati Menggembleng Puan Di Pentas Politik

Suara Rakyat  JUM'AT, 21 FEBRUARI 2020 , 10:50:00 WIB

Kesaksian Tentang Proses Megawati Menggembleng Puan Di Pentas Politik

Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani/Net

PEKAN ini, publik seakan dikejutkan dengan pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk jangan memaksakan anak maju di Pemilu 2024.

Megawati juga menegaskan tak pernah meminta putrinya, Puan Maharani, untuk terjun ke dunia politik.

Pernyataan Megawati itu disampaikan saat hadir di kantor DPP PDIP Jakarta Pusat, Rabu (19/2).

Mulanya, Megawati berbicara mengenai peta perpolitikan Indonesia pada 2024.

"Ini saya titip pesan. Nah, nanti, ini kan ada hal yang sangat berubah di perpolitikan Indonesia ini. Satu, 2024 akan terjadi regenerasi. Benar, kita-kita ini sudah fading away. Yang musti maju itu, yang didorong itu anak-anak muda," kata Megawati.

Megawati meminta kadernya tak memaksakan anak dan keluarganya masuk ke dunia politik.

Apalagi, kata dia, jika anak maupun keluarganya tak memiliki kemampuan untuk maju pada Pemilu 2024.

"Tapi berhentilah, kalau kalian punya anak, anaknya itu enggak bisa, jangan dipaksa-paksa. Jengkel loh saya. Lah iya loh, ngapain sih kayak enggak ada orang. Kader itu ya anak kalian juga loh. Gimana yo. Kalau enggak anake, kalau ndak istrine, kalau enggak ponakane," ujar Mega, yang oleh kalangan keluarga dekat dipanggil dengan sebutan Mumu.

Saya saksi hidup bahwa memang benar Mega sangat tegas dan teguh memegang prinsip untuk tidak mengkarbit anak-anaknya dalam pentas politik, utamanya Puan Maharani.

Saya mengenal pasangan Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri sejak tahun 1996, saat saya masih bekerja sebagai penyiar di Radio Ramako, dan berkesempatan meliput langsung kerusuhan 27 Juli 1996.

Persahabatan saya dengan keluarga ini, berlanjut saat Mega menjadi Wapres pada 1999, kemudian naik jadi presiden pada 2001 sampai 2004.

Dan persahabatan itu makin menguat sepanjang 10 tahun setelah Mega lengser dari kursi kepresidenan, yaitu tahun 2004 sampai 2014, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin negara ini untuk 2 periode.

Dalam kurun waktu 10 tahun itu, setiap ada acara ulangtahun, aqiqah cucu, Idul Fitri, Idul Adha atau Malam Pergantian Tahun, saya selalu datang setiap tahun selama 10 tahun itu.

Mega sangat menyayangi anak-anaknya, tapi rasa sayang itu tidak lantas membuat putri proklamator RI Soekarno ini menjadi kehilangan ketegasannya dalam mendidik anak.

Puan contohnya, sudah berkali kali ditawarkan Pak SBY menjadi menteri melalui pendekatan dan komunikasi dengan Mas Taufiq Kiemas (TK).

Tapi berkali-kali juga, Mega menolak tawaran itu.

Puan dididik secara natural dan bertahap, antara lain dengan mengenalkan Puan kepada dunia perpolitikan melalui PDI Perjuangan.

Mendampingi sang ibu dalam acara-acara PDIP.

Kemudian, tes pertama Mega untuk Puan adalah saat ia dipercayai menjadi ketua pemenangan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama pada 2012.

Tes pertama untuk Puan ini, bukan tanpa alasan.

Mega yang cerdik dan kawakan di bidang perpolitikan sangat paham tentang bagaimana meluluhkan hati sang suami yang menentang dukungan PDIP untuk Jokowi-Ahok.

Jika Puan yang membujuk ayahnya, maka pasti TK akan menyetujui keputusan Mega sebagai Ketua Umum PDIP untuk mendukung pasangan Jokowi-Ahok maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.

Dan memang benar demikian faktanya.

TK akhirnya menyetujui pencalonan Jokowi dan Ahok. Lalu, pasangan yang didukung PDIP ini pun menang dalam pertarungan politik Pilkada DKI Jakarta.

Tahun 2014, Puan nyaris menjadi Ketua DPR. Tapi pencalonannya kurang berjalan mulus.

Puan kemudian diberi posisi dalam kabinet kerja Jokowi-JK sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Dan setelah 5 tahun bekerja sebagai Menko PMK, kini ia menjadi Ketua DPR.

Cukup panjang memang, perjalanan Mega dalam menggembleng Puan untuk bisa menjadi seperti ini.

Memang betul bahwa Puan tidak serta merta bisa seenaknya aji mumpung menjadi Ketua DPR.

Puan, digembleng ibunya, untuk berproses melalui jalan yang panjang, terjal, dan berliku di pentas politik.

Perjalanan waktu akhirnya memberikan hasil yang menggembirakan.

Puan semakin matang di dunia politik. Dan sang ibu dapat menyaksikan buah dari tempaannya.

Sebab, semua memang akan indah pada waktunya.

Seperti kata pepatah, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya". 

Mega Simarmata Wartawan Senior

Komentar Pembaca
Angkamologi Lima

Angkamologi Lima

SABTU, 26 SEPTEMBER 2020

Berenang Tenggelam

Berenang Tenggelam

SABTU, 26 SEPTEMBER 2020

Mempelajari Jari

Mempelajari Jari

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2020

Pilkada Dalam Bayangan Kematian

Pilkada Dalam Bayangan Kematian

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2020

Resesi

Resesi

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2020

Setuju BTP

Setuju BTP

RABU, 23 SEPTEMBER 2020

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

RABU, 29 JULI 2020 , 10:05:00

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

RABU, 29 JULI 2020 , 13:29:00