Komentari Terdakwa Judi Online, Yenti Garnasih Dianggap Tak Paham Hukum Pidana

Hukum  RABU, 04 MARET 2020 , 13:07:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Komentari Terdakwa Judi Online, Yenti Garnasih Dianggap Tak Paham Hukum Pidana

Alvin Lim/Net

Pengadilan Negeri Jakarta Utara membebaskan empat terdakwa judi online secara murni. Mereka adalah Anjad Fendi Badriawan, Bim Prasetyo, Pipingan Tjok, dan Aditya Wijaya.

Majelis hakim menilai bahwa penjualan rekening BCA yang dilakukan oleh keempat terdakwa bukan merupakan tindak pidana.

Padahal, jaksa penuntut umum dalam dakwaannya meyakini bahwa rekening BCA milik keempat terdakwa dijual dan dipakai sebagai penampung uang perjudian atau pencucian uang.

Sebelumnya, hakim menjatuhkan vonis kepada tiga terdakwa lainnya karena terbukti terlibat dalam kasus money laundry dalam sindikat judi online yang diungkap Polda Metro Jaya.

Pakar Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Yenti Ganarsih menilai seharusnya vonis hakim tidak boleh berbeda dengan tindak pidana asal dalam sebuah kasus. Begitu pula dengan kasus jual beli rekening untuk judi online ini.

"Nggak mungkin kalau (vonis bebas) lah ya. Kalau money laundry sudah terbukti, tidak mungkin kejahatan asalnya tidak terbukti. Kan money laundry diputus penghukuman tiga tahun. Jadi kan nggak mungkin kejahatan asalnya bebas," kata Yenti saat dihubungi, Senin (2/3).

Doktor Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang pertama di Indonesia itu tidak sepakat jika kasus jual beli rekening bank tersebut disamakan dengan analogi jual beli mobil, seperti yang diumbar kuasa hukum terdakwa Alvin Lim ke publik.

"Saya juga gak ngerti kok jual beli mobil disamakan dengan jual beli rekening. Itu kan analoginya gimana? Kok jual rekening dianalogikan dengan jual mobil?" ujar Yenti.

Menanggapi pernyataan Yenti Garnasih, Alvin Lim menilai yang bersangkutan tak paham hukum pidana.

Alvin Lim menjelaskan bahwa hukum pidana yang terpenting itu adalah pembuktian. Dalam pasal 184 KUHP, alat bukti itu ada lima yaitu, keterangan saksi, surat, keterangan ahli, petunjuk dan keterangan terdakwa.

Dimana dalam persidangan jaksa gagal membuktikan lima alat bukti tersebut. Perbuatan tindak pidana perjudian seperti pemain, bandar dan uang taruhan saja tidak ada, dan tidak dapat ditunjukkan Jaksa dimuka persidangan.

Menurut Alvin, Yenti harus belajar hukum pidana, karena divonisnya perkara kasus serupa dalam persidangan yang berbeda bukan dasar hukum dan tidak harus sama keputusan hakim.

"Putusan hakim sebelumnya disebut pula Yurisprudensi. Itu hanya patokan, tetapi fakta persidangan kasus serupa bisa saja berbeda," kata Alvin melalui keterangan tertulisnya, Rabu (4/3).

"Bagaimana menjustifikasi putusan hakim hanya berdasarkan opini Yenti? Opini Yenti bukan dasar hukum dan terkesan ngawur. Apalagi Yenti bilang bahwa menjual rekening bank milik sendiri adalah illegal? Coba sebutkan undang-undang mana dan pasal berapa yang menjelaskan bahwa menjual rekening bank milik sendiri adalah illegal atau perbuatan melawan hukum?," tegas Alvin.

Sebelumnya dua saksi ahli yang dihadirkan oleh juasa hukum empat terdakwa dari LQ Indonesia Lawfirm, DR Dwiseno Widjanarko dan DR Arbiyoto pun mengatakan bahwa tindakan menjual rekening bank asalkan miliknya sendiri bukan perbuatan pidana. Tidak ada yang melarang penjualan rekening bank miliknya sendiri.

Pengacara Tandry Laksana dari LQ Indonesia menambahkan, bahwa putusan ini haruslah menjadi pelajaran bagi aparat penegak hukum, terutama kepolisian dan kejaksaan untuk tidak sembarangan menangkap dan menahan orang tanpa alat bukti dan dasar yang kuat.

"Saya dan rekan saya Alvin Lim siap untuk menghadapi kasasi maupun undangan debat dan gelar perkara kasus ini dimanapun dan kapan pun," tutup Tandry.[dod]

Komentar Pembaca
Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

RABU, 29 JULI 2020 , 10:05:00

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

RABU, 29 JULI 2020 , 13:29:00