Pimpin Golkar DKI, Ahmed Zaki Harus Evaluasi Besar-besaran Pengurus Sebelumnya

Politik  SABTU, 07 MARET 2020 , 08:15:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pimpin Golkar DKI, Ahmed Zaki Harus Evaluasi Besar-besaran Pengurus Sebelumnya

Ahmed Zaky Iskandar/Net

DPD I Partai Golkar DKI Jakarta baru saja menggelar Musyawarah Daerah (Musda) X pekan kemarin.

Dalam Musda tersebut, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar terpilih sebagai Ketua DPD Golkar DKI Jakarta untuk periode 2020-2025.

Ia terpilih secara aklamasi menggantikan posisi Plt Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Rizal Malarangeng.

Hasil Musda DPD Golkar DKI memberikan waktu sekitar tiga minggu bagi tim formatur untuk menyusun kepengurusan baru DPD I Golkar DKI 2020-2025, yang dikomandani Ahmed Zaki Iskandar.

Pengamat Kebijakan Publik dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah ikut mengomentari dinamika yang terjadi di Golkar DKI.

Salah satu yang disoroti adalah soal figur yang akan mengisi posisi sekretaris DPD Golkar mendampingi Ahmed Zaki.

Kabar yang beredar di kalangan awak media, nama Sekretaris DPD Golkar DKI periode sebelumnya, Basri Baco disebut-sebut ingin kembali menjabat untuk masa bakti 2020-2025.

Basri sebelumnya juga menjabat Sekretaris DPD Golkar DKI (2016-2021), era Fayakun Andriadi, yang saat ini menyandang status terpidana KPK dalam kasus korupsi tender proyek di Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Amir menyebut, jika melihat hasil Pemilu 2019 lalu, mestinya jajaran pengurus Golkar DKI harus dilakukan perubahan besar-besaran.

"Bukan hanya Basri Baco, saya kira semua jajaran pengurus inti DPD Golkar Jakarta harus dievaluasi," kata Amir, Sabtu (6/3).

Sebab, menurut Ami, kepengerusan Golkar yang lalu telah menyebabkan perolehan suara Golkar merosot tajam dari 9 kursi di DPRD DKI pada Pemilu 2014, menjadi hanya 6 kursi pada Pemilu 2019 lalu.

"Ini membuat Golkar Jakarta harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap internalnya sendiri," ujar Amir.

Amir kemudian membandingkan Golkar era Orde Baru dengan Golkar sekarang. Menurutnya, Golkar era sekarang tampak tidak ada lagi dinamika dan kaderisasi sebagaimana ciri khas partai berlambang beringin.

"Dulu, kaderisasi di Golkar berjalan dan dinamika di internal dibiarkan berjalan. Sehingga ada kompetisi antar kader. Kalau sekarang, sudah tidak ada dinamika demokrasi. Semua sudah diselesaikan di luar forum resmi," ungkap Amir.

"Makanya, jangan heran kalau misalnya si B dalam satu waktu merangkap banyak jabatan, menjabat ini, menjabat itu. Seakan-akan Golkar hanya punya satu kader saja, tidak ada orang lain lagi," sindir Amir.

"Jadi, Golkar sekarang ini lebih dikendalikan oleh oligarki internal dan oligarki eksternal yang punya kepentingan," pungkasnya.

Sebelumnya, Ahmed Zaki Iskandar mengaku siap bekerja keras dan fokus membawa Golkar bangkit. Dia ingin pada Pemilu 2024 mendatang Golkar di Jakarta meraih suara terbanyak.

Salah satu strateginya adalah dengan merekrut kader dari berbagai kalangan, sehingga bisa menarik suara terbanyak.

Target ke depan kita minimal 20 kursi di DPRD DKI Jakarta,” kata Zaki.

Zaki juga bertekad akan membesarkan Golkar di ibukota. Mengingat, saat ini Golkar hanya memiliki 6 kursi di DPRD DKI Jakarta dari 106 kursi. Golkar berada di urutan ke-8, kalah jauh dari PDIP (25 kursi), Gerindra (19 kursi), dan PKS (16 kursi).

Golkar bahkan kalah dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berhasil mendapatkan 8 kursi di DPRD DKI Jakarta.

Padahal, di DPR RI Golkar berada di posisi kedua dengan perolehan 85 kursi di bawah PDIP (128 kursi).[dod]

Komentar Pembaca