Eks Dirut Garuda Emirsyah Minta Keringanan Hukuman, Ini Alasannya

Hukum  SABTU, 02 MEI 2020 , 21:59:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Eks Dirut Garuda Emirsyah Minta Keringanan Hukuman, Ini Alasannya

Sidang Emirsyah Satar/Ist

Dinilai tidak ada kerugian negara di PT Garuda Indonesia dan seluruh saksi menyatakan tidak ada intervensi yang dilakukan dalam pengadaan, eks Dirut Garuda Emirsyah Satar meminta keringanan hukuman yang seadil-adilnya kepada majelis hakim atas tuntutan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Bukan cuma itu, dibawah kepemimpinan Emirsyah, Garuda juga berhasil bangkit dari kebangkrutan, dan meraih keuntungan perusahaan.

Di depan majelis hakim, Emirsyah jugamenyampaikan permohonan maaf atas kekhilafan yang dilakukannya.

Perkara menyangkut Rolls Royce di Inggris yang diinvestigasi oleh Serious Fraud Office (SFO) juga dinyatakan telah ditutup karena tidak terdapat cukup bukti dan tidak sesuai kepentingan publik.

Demikian antara lain pembelaan (pledoi) yang disampaikan Emirsyah Satar dalam sidang lanjuran yang dilaksanakan secara online, Jumat (30/5).

Dalam salah satu bagian pembelaan yang disampaikan Emirsyah, seperti yang disampaikan oleh para saksi menegaskan bahwa ia tidak pernah mengintervensi atau mengarahkan pengadaan di PT Garuda Indonesia, dan ia sama sekali tidak mengetahui dan bermaksud untuk melakukan pencucian uang.

Keputusan pengadaan di Garuda sudah selalu diambil Dewan Direksi berdasarkan usulan dari tim dalam forum rapat resmi, serta sudah dimintakan persetujuan kepada Dewan Komisaris karena semua berkomitmen untuk membesarkan Garuda.

"Jadi tidak benar bahwa pengadaan sudah merugikan Garuda atau inefisien. Sebab seluruh proses yang dilakukan justru membuat Garuda selalu mendapatkan harga yang lebih murah dan keuntungan. Sehingga dapat dipastikan tidak ada kerugian negara dalam kasus ini," kata Emirsyah.

Beberapa keuntungan yang didapatkan Garuda antara lain, cash back Engine Concession dari Rolls Royce senilai USD 26,600,000,00 per pesawat yang dibeli dan menggunakan mesin Rolls Royce serta diskon dari Airbus sebesar 54% dan dari Rolls Royce sebesar 72% untuk tiap unit pesawat Airbus A-330. Sehingga harga pesawat A-330 yang didapatkan Garuda adalah USD 81,326,317 alias jauh di bawah harga tanpa diskon senilai USD 171,949,317.

Pada 2005, Emirsyah diminta oleh Menteri BUMN, Sugiharto untuk kembali ke Garuda dan menyelamatkannya dari ambang kebangkrutan. Saat itu, Emirsyah Satar sudah nyaman dengan kedudukannya sebagai Wakil Direktur Utama Bank Danamon.

Setelah tiga kali diminta oleh Menteri BUMN, maka dengan semangat ingin berbakti kepada negara dan mengembangkan Garuda menjadi perusahaan kelas dunia, akhirnya Emirsyah menerima tawaran tersebut.

Garuda pada 2005 berada dalam keadaan nyaris bangkrut. Tidak seperti pada saat jayanya dengan nilai miliaran dollar dan mampu IPO pada 2011 dengan valuasi perusahaan senilai US$ 1,8 miliar atau Rp 18 triliun dimana negara mendapatkan Rp 4,7 triliun dengan melepas 26% saham ketika IPO.

Pada 2005 tersebut, hutang Garuda mencapai USD 800 juta dan kas perusahaan tidak cukup menutupi operasional, termasuk membayar gaji karyawan, serta kreditur mengancam menyita pesawat. Artinya nilai Garuda negatif.

Di lain sisi, utilisasi pesawat tidak optimal karena sistem perawatan mesin tidak efisien dan mahal, mengakibatkan "tingkat ketepatan penerbangan" (on-time performance) jelek, yang berarti pesawat Garuda sering mengalami delay.

Melalui program transformasi "Quantum Leap" yang dilaksanakan Emirsyah, selain berhasil membawa Garuda menjadi airlines yang kembali meraih keuntungan, juga menjadikan Garuda airline kelas dunia.

Dalam pledoinya, Emirsyah mengaku tidak mengetahui dan tidak bermaksud melakukan pencucian uang dan tidak pernah menitipkan uang kepada Soetikno Soedarjo.

Selain itu, ia juga menyatakan tidak melakukan back to back loan sebagaimana dituduhkan, karena rumah di Permata Hijau yang ditempatkan sebagai jaminan kredit di bank adalah harta yang sah dan sudah dibeli tahun 2004 sebelum menjabat di Garuda.

Sedangkan jual beli apartemen Silversea di Singapura antara Emirsyah dengan Soetikno adalah transaksi riil bukan transaksi fiktif.

"Semua pembayaran biaya perawatan dan penerimaan uang sewa apartemen dilakukan Soetikno Soedarjo dan apartemen tersebut sudah dikeluarkan dari LHKPN," pungkas Emirsyah.[dod]

Komentar Pembaca
Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

RABU, 29 JULI 2020 , 10:05:00

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

RABU, 29 JULI 2020 , 13:29:00