Krisis Pangan Mengancam, Jokowi Harus Evaluasi Mendag

Nasional  SENIN, 11 MEI 2020 , 08:44:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Krisis Pangan Mengancam, Jokowi Harus Evaluasi Mendag

Agus Suparmanto/Net

Presiden Joko Widodo dinilai harus mengubah paradigma Kabinet Indonesia Maju pasca pandemi Covid-19.

Demikian disampaikan Koordinator Forum Diskusi Kebangkitan Indonesia (Forum DKI) Bandot DM melalui keterangan tertulisnya, Senin (11/5).

Bandot mengatakan, pandemi Covid-19 telah menjungkar balikan perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Virus yang mulai dikenal pada Desember 2019 lalu tak perlu lama untuk membalikkan tatanan dunia. Sebulan kemudian, virus ini melumpuhkan perekonomian dunia hingga saat ini. Kita pun tak lepas dari serbuan badai Covid19 ini,” kata Bandot.

Sejak ditemukan pasien pertama pada awal Maret, katanya, pemerintah sudah menginisiasi sejumlah upaya pencegahan. Hingga akhirnya memutuskan untuk melaksanakan Program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dampak secara ekonomi bisa ditebak, krisis mengancam. Kita melihat ada tren kenaikan harga bahan pokok sejak awal Maret. Komoditas gula saja, selain harganya melambung hingga sempat menyentuh angka Rp 20.000 per kilo atau naik di atas HET (harga eceran tertinggi) pemerintah sebesar Rp 12.500. Persediaan di pasar pun langka,” ungkap Bandot.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyikapi hal itu dengan melakukan serangkaian sidak ke pabrik gula sembari menjanjikan harga gula akan segera turun.

Rupanya Mendag mengandalkan realokasi gula rafinasi industri menjadi konsumsi sebesar 250 ton,” ujar Bandot.

Namun, sejak ada kebijakan menambah kuota gula rafinasi konsumsi pada akhir Maret lalu, perkembangan harga gula belum turun signifikan. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per 8 Mei 2020 mencatat harga gula lokal masih di kisaran Rp 17.850 dan gula premium Rp 18.200.

Padahal, surat tugas yang dikeluarkan oleh Mendag tanggal 26 Maret 2020 seharusnya berdampak positif. Paling tidak 50% atau 125 ribu ton sudah bisa digelontorkan ke pasaran dan sampai ke publik dengan harga eceran tertinggi 12.500/kg,” ungkap Bandot.

Bandot menilai kegagalan Mendag Agus Suparmanto mengendalikan komoditas gula ini berbahaya, mengingat sejumlah komoditas pokok pun mengalami tren kenaikan harga serupa. Apalagi bulan ini juga sedang masa puasa dan menjelang Lebaran, dimana harga bahan pokok secara alamiah akan naik.

Ditambah faktor pandemi Covid-19, maka sejumlah komoditas selain harga melambung, pasokan juga bakal berkurang. Jika Mendag tidak memiliki formula yang tepat atau gagal mengantisipasi pasar, maka rakyat terancam krisis pangan yang nyata,” jelas Bandot.

Karenanya, Bandot mengingatkan Presiden Joko Widodo terkait pernyataan untuk menyesuaikan kehidupan dengan kondisi saat ini alias hidup normal dengan cara baru (new normal).

Menurutnya, dalam rangka menghadapi new normal ini yang paling pertama harus ditinjau oleh presiden justru komponen dan komposisi kabinetnya.

Apakah dengan kondisi new normal kini komposisi Kabinet Indonesia Maju yang sekarang ini masih relevan?,” tanya Bandot.

Pertanyaan berikutnya, kata Bandot, apakah Mendag Agus yang tidak bisa menstabilkan harga gula dalam sebulan ini masih relevan? Bagaimana antisipasi pemerintah menghadapi ancaman krisis pangan jika presiden tidak dibantu oleh Mendag yang memiliki kapasitas dan kemampuan mengendalikan pasar.

Di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 ini, Jokowi wajib dibantu oleh Mendag yang sosoknya bisa diterima oleh pasar dan memiliki jejaring komoditas, terutama bahan pokok di dalam dan luar negeri,” pungkasnya.[dod]

Komentar Pembaca
Anies-Riza Terima Bantuan Covid-19

Anies-Riza Terima Bantuan Covid-19

KAMIS, 16 APRIL 2020 , 14:15:00

Karangan Bunga Wartawan Untuk Riza Patria

Karangan Bunga Wartawan Untuk Riza Patria

RABU, 15 APRIL 2020 , 17:03:00

Persiapan Pemilihan Wagub

Persiapan Pemilihan Wagub

KAMIS, 02 APRIL 2020 , 12:39:00