Polisi Diminta Serius Usut Duit Nasabah Koperasi Indosurya Hingga Rp 14 T

Hukum  SABTU, 13 JUNI 2020 , 17:53:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Polisi Diminta Serius Usut Duit Nasabah Koperasi Indosurya Hingga Rp 14 T

Bareskrim Polri/Net

Mabes Polri diminta serius mengusut kasus gagal bayar 5.700 nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta. Diperkirakan nasabah kehilangan hingga Rp14 triliun.

Agus H. Wijaya, salah satu nasabah KSP Indosurya Cipta mengatakan kabar gagal dimulai sejak Februari 2020. Dana nasabah yang telah jatuh tempo tidak bisa dicairkan.

"Ini di luar dugaan, itu juga terjadi pada saya," kata Agus kepada wartawan, Sabtu (13/6).

Agus mendorong pemyidik Polri bekerja dengan sepenuh hati mengusut kasus gagal bayar tersebut.

Agus menuturkan, pada 3 Juni 2020, Aliansi Korban Indosurya sudah memberikan kuasanya kepada Otto Hasibuan sebagai penasihat hukum.

Kata Agus, Otto Hasibuan pernah berkunjung ke Mabes Polri untuk menanyakan perkembangan penyidikan laporan pidana atas nama HS, pemilik KSP Indosurya.

Informasi yang diterima Agus, polisi sudah melakukan penyitaan aset terhadap Indosurya berupa mobil Avanza. Namun itu tidak sebanding dengan dana nasabah. Padahal aset lainnya begitu banyak, termasuk gedung-gedung yang dipakai sebagai perkantoran.

"Di Jakarta ada kurang lebih 20 sampai 30 gedung itu," kata Agus.

"Nasabah mengharapkan Presiden agar bisa menyampaikan kepada kepolisian bahwa harus serius dalam menjalankan tugasnya," sambungnya.

Agus menduga aset Indosurya idilarikan ke luar negeri. Karenanya ia meminta kepolisian untuk mengenakan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). Polisi juga harus bekerjasama dengan PPATK untuk menelusuri aliran uangnya.

Nasabah lainnya, Irvan memgira hanya sedikit nasabah yang mengalami gagal bayar. Tapi ternyata melebar ke mana-mana hingga sekarang jumlahnya sangat banyak.

"Banyak korban mengalami depresi, ada yang sakit jiwa, hingga anaknya putus sekolah," kata Irvan.

Agus melanjutkan, ada sebagian nasabah yang tidak mendaftarkan di PKPU karena diundang oleh Indosurya dan ditawarkan rencana damai di luar PKPU. Mereka ditawarkan diberikan ganti uang tapi dicicil dengan waktu yang lama atau ditukar dengan aset. Namun tidak ada jaminan dengan menandatangani secarik kertas. "Jadi satu-satunya bukti bahwa kami menyimpan dana di situ adalah bilyet. Biasanya orang kalau menyimpan deposito akan mendapatkan bilyet. Itu malah diminta bilyetnya. Dengan memberitahu nanti diganti bilyet tapi dari badan usaha yang lain. Orang yang mengerti akan menganggap bahwa ini adalah akal-akalan," tegas Agus.

Agus mengungkapkan, para nasabah juga akan melakukan upaya turun aksi atau demonstrasi pada 19 Juni mendatang.

"Jadi kami tinggal koordinasi di antara kelompok nasabah ini supaya ada perwakilan. Untuk lokasi saya belum bisa untuk memberitahu karena masih dibahas," tutup Agus.[dod]

Komentar Pembaca