Jaksa Agung ST Burhanuddin Paling Layak Direshuffle

Politik  SENIN, 29 JUNI 2020 , 14:46:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Jaksa Agung ST Burhanuddin Paling Layak Direshuffle

Jaksa Agung ST Burhanuddin/Net

Jaksa Agung ST Burhanuddin harus menjadi prioritas direshuffle oleh Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

"Kenapa Jaksa Agung harus direshuffle? Sebab Jaksa Agung sudah mengangkangi hukum, tidak patuh hukum, dan tidak memberi kepastian hukum dalam kasus pembunuhan di Bengkulu yang diduga dilakukan Novel Baswedan," kata Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane melalui keterangan tertulisnya, Senin (29/6).

Neta mengungkapkan, dalam butir dua putusan majelis prapradilan PN Bengkulu No:02/PID.PRA/2016/PN Bgl tgl 4 April 2019 dinyatakan bahwa Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan No:B.03/N.7.10/Ep.1/02/2016 tgl 22 Feb 2016 yang dikeluarkan kejaksaan tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Sehingga di butir empat majelis prapradilan memerintahkan agar menyerahkan BAP No 31/Pid.B/2016/PN.Bgl atas nama terdakwa Novel bin Salim Baswedan kepada Ketua PN Bengkulu dan melanjutkan penuntutan perkara atas nama terdakwa Novel bin Salim Baswedan.

Namun putusan majelis praperadilan tidak digubris dan dilaksanakan Jaksa Agung. "Sebagai pimpinan kejaksaan, Jaksa Agung tidak memberikan contoh yang baik. Jika hal ini dibiarkan, kepastian hukum semakin hilang di negeri ini. Sikap Jaksa Agung tsb tidak menghargai majelis hakim dan menunjukkan bahwa putusan majelis prapradilan bisa diabaikan," ujar Neta.

Menurut Neta, Jaksa Agung telah memberikan contoh yang tidak baik seakan pemerintahan Jokowi tidak patuh hukum.

Untuk itulah IPW mendesak agar Jokowi segera mereshuffle Jaksa Agung ST Burhanddin bersama para menteri lainnya.

Selain Jaksa Agung, IPW menilai ada 12 menteri lainnya yang harus direshuffle Jokowi. "Presiden Jokowi jangan sekadar mengancam, tapi reshuffle kabinet harus segera dilakukan. Sebab kabinet Presiden Jokowi semakin loyo dan tidak terarah, baik dalam upaya penegakan hukum, pembangunan sosial maupun ekonomi," ungkap Neta.

Misalnya, di saat Jokowi menyatakan listrik gratis di tengah pandemi Covid -19 terhadap pemakai golongan kecil, tapi listrik kelompok atas malah melonjak harganya.

"Jika dicermati, kasus listrik ini sebuah tamparan yang memalukan Jokowi. Selain itu, disaat minyak dunia harganya melorot, tapi harga BBM Indonesia tetap stabil. Semua itukan menunjukkan bahwa kinerja pemerintah seakan tidak terarah," tegas Neta.

Jadi, jika pemerintah ingin berlari kencang seiring diterapkannya konsep new normal, pergantian kabinet haris dilakukan Jokowi. "Konsep dan slogan new normal hanya omong kosong belaka jika menteri-menteri kabinet Jokowi tetap loyo," cetus Neta.

Bukan cuma itu, harapan Jokowi akan ada terobosan baru di pemerintahan periode keduanya dengan dimunculkan anak-anak muda milenial di kabinet, ternyata gagal total. Karena tak ada satu pun terobosan baru dari para menteri Jokowi di tengah pademi Covid 19. Semua seakan ngumpet mengikuti "perintah di rumah saja", padahal dalam kondisi pademi Covid-19 Jokowi perlu pemikiran-pemikiran yang bisa membantunya dengan maksimal. "Minimal membuat konsep terobosan di bidangnya masing-masing dan begitu wabah Covid-19, kementeriannya bisa berlari kencang. Yang terjadi justru, jika tidak bersembunyi, para menterinya justru membuat hal hal kontroversial yang memicu kegaduhan di tengah masyarakat," kata Neta melanjutkan.

Selain Jaksa Agung, sedikitya ada 12 menteri jokowi yang patut kena reshuffle, yakni Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

"Seharusnya di tengah kegoyahan ekonomi global, Kemtenterian Koperasi dan UKM bisa berada di depan menggerakkan ekonomi rakyat lewat terobosan UKM," ujar Neta. Neta menuturkan, Menkumham Yaasona Laoly yang membuat kegaduhan dengan melepaskan ribuan napi juga pantas dicopot.

"Menteri lainnya yang harus diganti adalah, Menpora, Menteri Pariwisata, Menteri Perdagangan, Menaker, Mensos, Menteri Kominfo, Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian, Menteri BUMN dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi," tutup Neta.[dod]

Komentar Pembaca