Sujud Risma

Opini  RABU, 01 JULI 2020 , 06:35:00 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

Sujud Risma

Tri Rismaharini bersujud/Net

ANDA sudah tahu: Bu Risma (Tri Rismaharini) sampai sujud-sujud. Di depan para dokter. Senin kemarin.

Hasilnya nyata: diketahuilah kenapa rumah-rumah sakit di Surabaya terlalu penuh penderita Covid-19.

Setelah adegan heboh itu jalan keluar pun ditemukan.

Penyebab utama lubernya rumah sakit itu bisa diketahui. Jumlah penderita Covid-19 masih naik. Tapi ada penyebab lain: pasien Covid-19 terlalu lama berada di rumah sakit.

Mengapa?

Karena yang sudah negatif tidak boleh pulang. Harus menunggu hasil tes swab yang kedua. Padahal jarak tes pertama dan kedua itu bisa lima sampai enam hari.

Prosedur yang seperti itu sesuai dengan peraturan yang tidak bisa dilanggar. Itulah peraturan Kementerian Kesehatan.

Bagaimana kalau dilanggar?

Akibatnya bisa fatal: biaya perawatan tidak ditanggung BPJS.

Walikota Surabaya pun ternyata bisa menerima masukan itu. Setelah tenang Bu Risma pun mengambil keputusan: pasien negatif harus cepat dipulangkan.

Biar pun itu baru hasil tes swab pertama. Bagaimana kalau BPJS tidak mau mengganti biayanya? Di sinilah hebatnya Bu Risma: ”Pemda Surabaya yang akan mengganti,” katanya di forum itu.

Peserta rapat pun lega. Ada jalan keluar. Rapat bisa selesai dengan baik.

Padahal rapat itu sempat menegangkan. Terutama setelah berlangsung setengah jam. Tiba-tiba Bu Risma berdiri dari tempat duduknyi. Dia maju ke depan meja pimpinan. Dia bersujud di lantai. Sampai ndelosor.

Yang hadir di rapat itu pun tertegun. Sebagian nimbrung ke tempat Bu Risma ndelosordi aspal. Termasuk moderator rapat itu, Ketua IDI Surabaya, dr Brahmana.

Mereka memapah Bu Risma agar bangkit dari ndelosornya. Bu Risma kembali ke kursinya.

Yang mengadakan rapat itu: wali kota Surabaya sendiri. Yang diundang: IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Surabaya, pimpinan rumah-rumah sakit, relawan Covid-19, dan gugus tugas wabah itu.

Rapatnya diadakan di halaman depan kantor walikota. Di seberang kantor Harian DI’s Way.

Bu Risma, sejak tiga bulan lalu, memang berkantor di halaman. Di bawah tenda. Lantainya aspal.

Ke halaman itulah meja kerjanya dipindah. Di halaman itu pula rapat-rapat dengan walikota dilangsungkan.

”Saya sendiri sudah tiga-empat kali diajak beliau rapat di tempat terbuka itu,” ujar Dokter Brahmana.

Senin kemarin pun dr. Brahmana yang diminta memimpin rapat. Acara pertamanya pidato pengantar dari walikota. Bu Risma berpidato kira-kira setengah jam.

Setelah itu giliran para pimpinan rumah sakit yang berbicara.

Drama itu sendiri terjadi ketika dokter Sudarsono tengah memberikan paparan. Ia adalah Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Remerging (Pinere) RSUD dr. Soetomo Surabaya, milik Provinsi Jatim.

Dokter Sudarsono lagi menceritakan keadaan rumah sakit yang ia pimpin. Tiba-tiba, itu tadi. Bu Risma ndelosor di lantai --yang tak lain adalah aspal yang biasa untuk tempat berhenti mobil.

Begitu lama Bu Risma ndelosor. Beberapa orang sampai ikut merayu untuk mengakhiri adegan itu.

Bu Risma pun kembali duduk di kursinya.

Setelah kembali duduk dia pun mengungkapkan kejengkelannya pada RSUD dr. Soetomo. Yang, katanya sulit diajak koordinasi. Dari ucapannya itu, terkesan, pasien Covid-19 dari Surabaya tidak bisa masuk ke situ.

Kesan lainnya lagi: Pemprov, sebagai pemilik RS itu, tidak mendukung program Covid-19 walikota.

Kesan, di zaman medsos ini, bisa lebih dominan dari data.

Menurut data, pasien RS Dr Soetomo kebanyakan adalah warga Surabaya. Kalau pun ada pasien Surabaya yang ditolak itu karena rumah sakitnya lagi penuh.

Bukan karena walikota Surabaya lagi bertengkar dengan gubernur Jatim. Jatim memang lagi punya gubernur dan walikota yang sama-sama wanitanya. Hanya beda partainya.

Baru sekitar dua menit Bu Risma mengungkapkan kejengkelannya ke RS dr. Soetomo, dia berdiri lagi. Maju ke depan lagi. Sujud lagi. Ndelosor lagi. Untuk yang kedua kalinya.

IDI Surabaya pun mengusulkan terobosan. Rapat setuju. Tinggal menunggu persetujuan. Juga menunggu anggaran.

Usul Dokter Brahmana adalah: agar setiap Puskesmas di Surabaya disediakan alat pengukur oksigen. Banyak pasien yang tidak ada gejala Covid-19 tapi kekurangan oksigen.

Menurut Brahmana, pasien yang oksigennya sudah merosot harus segera dibawa ke rumah sakit. Itu bisa mengurangi risiko kematian. Juga bisa mengurangi beban rumah sakit.

”Alatnya murah kok. Hanya kisaran ratusan ribu rupiah,” ujar dr. Brahmana. Alat itu disebut ”pulse oximeter fingertip”, alat pengukur kadar oksigen. Begitulah. Semoga drama Senin lalu itu yang terakhir kali.

Saya pun harus meralat tulisan DI’s Way kemarin. Yang menyimpulkan bahwa berita terbesar minggu ini adalah marah besarnya Presiden Jokowi. Ternyata di kampung saya sendiri ada berita yang lebih besar lagi. Gajah di pelupuk memang bisa membuat mata tertutup.[]

Komentar Pembaca
Bank Pusing

Bank Pusing

RABU, 15 JULI 2020

Pendukung Jokowi Mulai Kecewa

Pendukung Jokowi Mulai Kecewa

SENIN, 13 JULI 2020

Covid-19: Beruntung Atau Buntung

Covid-19: Beruntung Atau Buntung

SENIN, 13 JULI 2020

Koperasi Dan Kaum Milenial

Koperasi Dan Kaum Milenial

MINGGU, 12 JULI 2020

Pesan Burung Garuda Pancasila

Pesan Burung Garuda Pancasila

MINGGU, 12 JULI 2020

Mahasiswa Geruduk DPR. Ah, Yang Bener?
Viral!! Aksi Menunggang Sapi Raksasa di Boyolali
Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

Jasad ABK WNI Ditemukan di Frezeer Kapal China

JUM'AT, 10 JULI 2020 , 21:30:00

New Normal New Ideas

New Normal New Ideas

MINGGU, 05 JULI 2020 , 02:30:19

Tower Di Lahan Fasum

Tower Di Lahan Fasum

JUM'AT, 29 MEI 2020 , 13:29:00

Dini Hari, Ariza Cek Rob Di Kawasan Perumahan Ahok
Wagub Cek Protokol Kesehatan Di Mal Kelapa Gading