Politik Distraksi Menghabisi Gerindra

Opini  SELASA, 07 JULI 2020 , 21:30:00 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

Politik Distraksi Menghabisi Gerindra

Massa Partai Gerindra/Net

ADA "pandemonium" di circle peta politik. Secret operation. Permainan intelijen mengalihkan Polemik RUU HIP. Sasaran tembaknya; Partai Gerindra.

Di waktu bersamaan, at least ada 4 target: Menteri KKP Eddy Prabowo, Wagub Ariza Patria, Hashim Djojohadikusumo dan Bakal Calon Walikota Tangsel Saraswati Rahayu. Pluz satu pandemonium avonturisme by designed Arif "Kadrun" Poyuono.

Modus operandi intel; Politics of Distraction. Metode distraksi. Olah emosi. Matikan nalar. Seperti kata Larken Rose, Politics: the art of using euphemisms, lies, emotionalism and fear-mongering to dupe average people into accepting "or even demanding "their own enslavement.”

Kinerja Menteri KKP Eddy Prabowo membuat dirinya menyabet status one-man meteor shower of Jokowi's administration. New comer andalan Mr. President.

Polemik kran baby lobsters murni issue elite. Nelayan senang. Ga perna ada aksi demonstrasi. Resistensi zero. Pengusaha support. Negara diuntungkan. Everybody is happy. Artinya, policy Eddy Prabowo benar. Dirasakan manfaatnya oleh stakeholders.

Hanya 1 orang yang tidak senang i.e. Madame Susi Pujiastuti. Kultwitnya adalah sumber polemik lobsters.

Madame Susi Pujiastuti ingin menjadikan dirinya sebagai "figurative devices", biasa disebut ‘‘shiny objects" di arena politik.

Kultwit dan manuvernya; seperti kolaborasi dengan PKS di saat Polemik Natuna, jelas merupakan offensive attack kepada Menhan Prabowo dan Menteri Eddy Prabowo. Pelukan dengan Anies Baswedan adalah usahanya mengolah emosi Aniser fanatik yang berfungsi tidak lebih dari sekedar pion-pion tukang caci-maki di front liner.

Urban Dictionary mengidentifikasi manuver Madame Susi Pujiastuti sebagai ‘‘S.O.S.’’ (shiny-object syndrome).

Kali ini Susi's Shiny-object syndrome dimaximalisasi secret agency. Kerjasama dengan jurnalist katro yang disebut Dan Pfeiffer, mantan penasehat Presiden Obama, sebagai "Attention-deficit disorder political reporters".

Cover cartoon Menteri Eddy Prabowo mengunyah lobsters adalah contoh kreasi A.D.D. political reporters yang diorkestrasi tangan tak terlihat.

Flatform internet Ursa Major digunakan sebagai theater Political pseudo-events. Goal-nya solidifikasi core belief; Eddy Prabowo jahat & Susi baik, hingga mencapai kulminasi "Cognitive dissonace".

Di titik ini average people semakin tumpul. "To protect core belief, they will rationale, ignore & even deny anything that doesn't fit in with the core belief," kata Psychiatrist Frantz Fanon.

Average people with cognitive dissonace ngga akan terima fakta, data, jurnal ilmiah dan bukti-bukti kinerja Menteri KKP Eddy Prabowo.

Christopher Cerf, co-author of ‘‘Spin-glish: The Definitive Dictionary of Deliberately Deceptive Language" menganalogikan Moduz Distraksi Intelijen sebagai "Magicians use sleight of hand, dangling a shiny object in front of their audiences to distract them from the hidden deception going on elsewhere".

Rakyat disuguhi political pseudo-events downgrade Eddy, Ariza, Sarah, dan Hashim yang difitnah ada di belakang proyek Reklamasi Ancol-Anies. Padahal Grup Ciputra. Tensi RUU HIP hendak diminimalisir.

Target besarnya Denigrasi Gerindra yang merupakan partai terkuat #2 sebagai kaki penopang Pemerintahan Jokowi-Amin. Apabila Gerindra bisa dilumpuhkan, maka mudah bagi mereka mendongkel Kursi President.[dod]

Komentar Pembaca
Gerindra Dan Nepotisme

Gerindra Dan Nepotisme

RABU, 05 AGUSTUS 2020

Berkaca Dari Kasus Fitnah Ike Muti, Pemimpin Sejati Itu Memaafkan
Lahir Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia
Sulam Alis

Sulam Alis

MINGGU, 02 AGUSTUS 2020

Djoko Tjandra Tertangkap Setelah 3 Jenderal Dicopot
Gerombolan Djarot

Gerombolan Djarot

KAMIS, 30 JULI 2020