Guru Besar UGM: Nadiem Tak Kompeten Urus Pendidikan

Politik  RABU, 08 JULI 2020 , 07:15:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Guru Besar UGM: Nadiem Tak Kompeten Urus Pendidikan

Nadiem Makarim/Net

Kinerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali mendapat sorotan dan kritik tajam dari sejumlah praktisi dan pengamat pendidikan.

Nadiem dianggap belum dapat mewujudkan secara nyata program dan visi Nawacita sebagai Mendikbud, sebagaimana harapan tinggi telah disematkan kepadanya saat ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo, kurang lebih sembilan bulan yang lalu.

Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo mengatakan, Nadiem sebagai Menteri Pendidikan tidak betul-betul menguasai peta persoalan pendidikan di Indonesia.

"Nadiem agaknya lebih cocok menjadi salah satu Dirjen dalam Kementerian Pendidikan yang dapat membuat inovasi di bidang teknologi pendidikan" ujar Wahyudi. dalam diskusi zoom dan live youtune Pustakapedia bertema, Arah Pendidikan Kita: Mas Nadiem Mau ke Mana?”, Selasa (7/7).

Selain Wahyudi Kumorotomo, diskusi online itu juga diikuti beberapa pembicara. Pengantar diskusi CEO Pustakapedia, Akhmad Muzambik, Narsum Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan) dan Muhammad Ramli Rahim (Ketua Ikatan Guru Indonesia-IGI), pemantik David Krisna Alka (Editor in Chief Pustakapedia), dan dimoderatori oleh Andriansyah Syihabuddin.

Wahyudi beralasan bahwa terdapat konteks yang berbeda di Kemendikbud yang kini menangani semua jenjang pendidikan di Indonesia.

Selain itu, menurutnya, ide Nadiem yang menghendaki semua kegiatan proses belajar mengajar (PBM) dilakukan secara daring tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Banyak daerah yang belum mempunyai infrastruktur pendidikan yang memadai. Jangan lagi internet, bahkan banyak daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik. Hal ini tentu memerlukan segregasi dan segmentasi kebijakan sesuai dengan kenyataan di setiap daerah. Artinya tidak semua jenjang dan daerah dapat dilakukan PBM secara daring karena banyak materi pembelajaran yang memerlukan mentoring pengajar" kata Wahyudi.

Wahyudi juga menyoroti program Merdeka Belajar dengan banyak catatan. Program ini menurutnya, pada tingkat operasional tidak benar-benar dapat diimplementasikan untuk mewujudkan pembelajaran secara merdeka sesuai dengan visi dan konsep yang dibuat.

"Program Merdeka Belajar sejauh ini tampak baru sebatas gimmick" tegasnya.

Selain itu, Wahyudi juga menyinggung perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak terlalu meyakinkan.

Sampai dengan tahun 2019, SDM Indonesia masih didominasi lulusan SD (32%) dan SMP (22,8%) atau 54% lebih.

Berikutnya, lulusan SMA (20,15%), SMK (17,31%), D1-D2-D3 (1,8%), dan S1 ke atas (4,11%).

Terkait dengan hal ini tampaknya belum ada terobosan dari Menteri Nadiem.

Wahyudi justru meragukan apa yang tertuang dalam Strategi kemendikbud 2020-2024 yang menjadi bagian program Merdeka Belajar, yang menyebutkan bahwa angka partisipasi peserta didik di perguruan tinggi dipatok pada angka 70%.

"Bagaimana mungkin pada tahun 2019 berada di angka partisipasi 4,11% lalu melompat ke angka 70% hanya dalam empat tahun?" tutup Wahyudi.[dod]

Komentar Pembaca