Wasekjen MUI: Pendidikan Indonesia Tamat Jika Dipimpin Mendikbud Yang Tidak Berpengalaman

Politik  KAMIS, 09 JULI 2020 , 15:42:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Wasekjen MUI: Pendidikan Indonesia Tamat Jika Dipimpin Mendikbud Yang Tidak Berpengalaman

Nadiem Makarim/Net

Wakil Sekjen MUI Najamuddin Ramli menilai Mendikbud Nadiem Makarim belum mampu mewujudkan harapan Presiden Jokowi sebagai Mendikbud.

Tangan dingin Nadiem saat mengelola layanan transportasi daring Gojek yang mampu meraup untung 10 kali lipat dari laba yang didapat PT Garuda Indonesia ternyata tidak menjadi kenyataan saat memimpin Kemendikbud.

Mungkin Pak Jokowi terhinoptis dengan keberhasilan Mendikbud pada saat mengelola Gojek dengan keuntungan yang dahsyat dan luar biasa. Tapi saat diangkat menjadi Mendikbud sejak Oktober 2019 hingga detik ini, yang ada hanya slogan-slogan,” kata Najamuddin Ramli saat menjadi salah satu penanggap dalam webinar yang diadakan Pustakapedia, Selasa malam (7/7).

Webinar bertema, Arah Pendidikan Kita: Mas Nadiem Mau ke Mana?” menghadirkan Guru Besar UGM Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan), dan Muhammad Ramli Rahim (Ketua Ikatan Guru Indonesia-IGI). Adapun pemantik webinar adalah David Krisna Alka (Editor in Chief Pustakapedia), dan Andriansyah Syihabuddin sebagai moderator.

Najamuddin juga menyinggung hal paling menyakitkan yang dilakukan Kemendikbud saat berencana menghilangkan Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum pendidikan.

Menurutnya, seharusnya Mendikbud memahami UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pada Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat (2) yang menyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, yang berakar pada kebudayaan nasional, dan tanggap terhadap perubahan zaman.

Dari definisi pendidikan nasional ini seharusnya tidak boleh mengutak-atik Pendidikan Agama. Setelah direspons oleh masyarakat, tiba-tiba Kabalitbang mengatakan bahwa hal itu tidak pernah ada. Jadi, kebohongan-kebohongan publik seperti ini tidak boleh terjadi,” kata Najamuddin.

Program Merdeka Belajar yang dicanangkan Nadiem turut dikritik Najamuddin.

Ia berpendapat bahwa program ini sebenarsnya program lama, sudah dilakukan sekitar 30-40 tahun lalu. Merdeka belajar telah dikenalkan menteri-menteri pendidikan sebelumnya.

"Program ini merupakan bagian dari sistem andragogi pendidikan orang dewasa sebagai lawan dari paedagogi pengajaran kepada anak kecil," ungkap Najamuddin.

Karena itu, Najamuddin mempertanyakan alasan yang masuk akal jika Nadiem masih akan dipertahankan sebagai Mendikbud.

Patut dipertanyakan, apakah masih layak dipertahankan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud dengan tidak ada prestasi, malahan menurunkan kualitas pendidikan saat ini. Pendidikan kita sudah bagus pada masa Menteri Bambang Sudibyo, dilanjutkan oleh Muhammad Nuh, Anies Baswedan, Muhajir Effendy, yang telah menemukan titik terang,” katanya lagi.

Najamuddin menambahkan, jika ada figur menteri yang tidak menguasai pendidikan dan tidak berpengalaman mengelola pendidikan, maka akan tamat pendidikan nasional.

Padahal Kemedikbud adalah kementerian besar yang menjadi andalan utama bangsa ini dalam membangun sumber daya manusia.

Kalau dikendalikan oleh nahkoda yang biasa-biasa saja, yang tidak punya pengalaman dalam pendidikan, tidak mengerti filosofi pendidikan, tidak mengerti empirik posisi yuridis pendidikan, dan tidak mengerti apa tujuan pendidikan, yakni membangun manusia yang bertakwa dan berakhlak mulia, terampil dan adaptif dengan tuntutan zaman maka tamatlah riwayat pendidikan kita,” katanya lebih lanjut.

Ia juga menilai pendidikan Indonesia, terutama ketika menghadapi pandemi Covid-19, semakin turun kualitasnya karena tidak ada tatap muka. Banyak guru yang tidak meguasai alat-alat digital.

"Mungkin karena tidak punya alat kelengkapannya lantaran pendapatannya pun pas-pasan. Bahkan banyak yang habis bulan harus berutang. Tidak mencukupi kalau harus membeli ponsel baru, laptop, atau membiayai pengadaan jaringan internet," terangnya.

Najamuddin mengatakan, Kemendikbud adalah harapan bangsa dalam mebangun sumber daya manusia yang cerdas. "Kalau bangsa ini tidak cerdas maka bangsa ini akan melempem dan tidak pernah bangkit dan juara di antara negara-negara lain, terutama berhadapan dengan negara-negara tetangga," ucap Najamuddin.

Prestasi pendidikan Indonesia di antara negara Asia Tenggara memang tidak menggembirakan. Ranking Indonesia saat ini mungkin berada di peringkat terakhir dari 10 negara.

"Indonesia memang masih di atas Timor Leste, negeri yang pernah dianeksasi oleh Indonesia. Akan tetapi, Indonesia sudah di bawah Vietnam, mungkin juga Laos, Kamboja, Filipina, negeri-negeri yang awalnya mengikuti Indonesia," tegasnya.

Presiden Jokowi harus melihat, kalau prestasi menterinya tidak becus maka secepatnya harus diganti dengan orang yang memiliki pengalaman dan punya kualifikasi menjadi pemimpin di Kemendikbud. Mudah-mudahan sisa tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi mampu melakukan recovery pendidikan yang pekerjaan rumahnya segudang,” pungkasnya.[dod]

Komentar Pembaca