Bekuk Maria Pauline, Tapi Tak Bisa Mencokok Djoko Tjandra, Tak Ada Artinya

Hukum  JUM'AT, 10 JULI 2020 , 06:42:00 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Bekuk Maria Pauline, Tapi Tak Bisa Mencokok Djoko Tjandra, Tak Ada Artinya

Maria Pauline Lumowa/Net

Publik dihebohkan dengan penangkapan buronan kasus pembobolan Bank Negara Indonesia (BNI) Maria Pauline Lumowa setelah 17 tahun ngumpet di Siberia.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Badan Pembinaan Jaringan Konstituen DPP Partai Demokrat Taufiqurrahman mengaku heran dengan kinerja Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham)

Pasalnya, Kemenkumham yang dipimpin oleh Yasonna Hamonangan Laoly itu seolah memamerkan penangkapan Maria Pauline Lumowa, sementara buronan skandal Bank Bali Djoko Tjandra bisa leluasa masuk ke Indonesia.

"Bahkan sempat membuat E-KTP di daerah Jakarta Selatan," kata Taufiq kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (10/7).

Politisi Partai Demokrat ini mengibaratkan dengan pribahasa 'semut di ujung lautan nampak tapi gajah di pelupuk mata malah tidak kelihatan'.

"Itu skandal Bank Bali kan sudah terjadi 10 tahun lebih, dan pelakunya menjadi buronan aparat hukum kita, mestinya semua sistem pengamanan bisa melacak dan membaca jika buronan Djoko Tjandra memasuki wilayah Indonesia," ujar mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta ini.

Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Bahkan yang membuat ini tampak seperti dagelan, lanjut Taufiq adalah Djoko Tjandra dengan leluasa membuat E-KTP baru dengan proses dan pelayanan yang cepat.

"Kalau begini terus pelaksanaan penegakan hukum kita lama-lama publik makin tidak percaya dengan law enforcement yang terjadi di pemerintah kita," tegas Taufiqurrahman.[dod]

Komentar Pembaca