Survei Indonesia Development Monitoring

PSBB Diberlakukan, Penghasilan Masyarakat Anjlok 56,3 Persen

Politik  SABTU, 11 JULI 2020 , 16:22:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

PSBB Diberlakukan, Penghasilan Masyarakat Anjlok 56,3 Persen

Penumpang MRT Jakarta/Net

Indonesia Development Monitoring (IDM) menggelar survei pendapat publik terkait dampak Covid 19 terhadap perekonomian masyarakat, baik para pekerja sektor formal, informal, pelaku UMKM, pedagang kaki lima, pedagang pasar tradisional dan sopir angkot.

Survei dilaksanakan mulai 18-30 Juni 2020. Responden tersebar di 14 provinsi di Indonesia yakni, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jogyakarta, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, NTB, Bali, Sumatera Selatan, Lampung, Riau dan Sulawesi Utara

Jumlah Responden yang tersebar di 14 provinsi secara proposional sebanyak 2.626 orang. Pengambilan sampel dengan mengunakan metode multistage random sampling dan margin of error berkisar pada +/- 1,92 persen dengan tingkat kepercayaan survei 95 %.

Responden dilakukan wawancara via telepon seluler dengan kuesioner. Hasil Survei ditemukan di 14 provinsi.

"Hasilnya, keadaan ekonomi keluarga selama PSBB berdampak pada penghasilan dan pendapatan rumah tangga masyarakat dalam aktivitas ekonomi menurun hingga 56,3 persen," kata Direktur Eksekutif IDM Bin Firman Tresnadi melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (11/7).

Menurut Firman, hal ini didapat dari jawaban 2.606 responden dimana sebanyak 86,3 persen menyatakan pendapatan keluarga mereka menurun selama PSBB dan dampak Covid-19 dan yang menyatakan tetap hanya 13,7 persen.

Sementara itu, mayoritas masyarakat mengaku puas dengan penanganan pandemi Covid-19 dan penyelamatan perekonomian masyarkat yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hal tersebut tergambar dalam hasil survei yang memperlihatkan masyarakat yang puas terhadap penanganan virus Corona dan program-program penyelamatan perekonomian masyarakat oleh Presiden Jokowi sebesar 59,2 persen.

"Dengan pembagiannya, 51,8 persen menyatakan puas dan 7,4 persen menyatakan puas sekali. Dan yang tidak puas sebanyak 40,8 persen," ujar Firman.

Kata Firman, pihak yang puas terhadap penanganan pemerintah beralasan; penanganan PSBB dan dampak perekonomian masyarakat akibat PSBB sudah cukup baik dan mengurangi dampak menurunnya perekonomian keluarga masyarakat (28,7 persen).

"Hasil lain, Jokowi mementingkan rakyat banyak (7, 6 persen). Bantuan penyaluran program KUR untuk insentif UMKM dan untuk usaha masyarakat yang sudah berjalan baik 22,9 persen," ungkap Firman.

Alasan tertinggi mengapa masyarakat tidak puas disebabkan kebijakan yang tidak konsisten.

Berikutnya, pemerintah lambat mendistribusikan bantuan sosial 13,9 persen, data penerima bantuan tidak akurat 12,1 persen penanganan secara umum lambat 5,2 persen.

"Sebanyak 79,7 persen sangat yakin dan percaya bahwa program-program penyelamatan perekonomian nasional akan bisa membantu keterpurukan usaha dan penurunan pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja, sehingga bisa memperkerjakan pegawai yang kena PHK akibat Covid-19. Dan sebanyak 20,3 persen menjawab tidak yakin dengan alasan akan adanya kemacetan program tersebut dan pengunaan yang salah dan diselewengkan," terang Firman.

Terkait penyaluran insentif KUR UMKM disaat Covid sebanyak 78,9 persen menyatakan puas dan merasa dilayani dengan mudah dan cepat oleh petugas petugas bank penyalur KUR sementara sebanyak 21,1 persen masih kesulitan untuk mengakses KUR UMKM .

Dari hasil survei juga didapati pendapat publik bahwa 89,9 persen masyarakat di 14 provinsi tersebut menginginkan relaksasi PSBB dipercepat namun dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat, sedangkan 10,1 persen ingin ditiadakan PSBB.

Firman mengungkapkan, dari hasil survei tersebut dapat disimpulkan jika program-program penyelamatan ekonomi tersebut dijalankan dengan baik, walau ada kekhawatiran akan penyelewengan pada tingkatan praktis.

"Namun mayoritas masyarakat meyakini dengan program-program ekonomi pro rakyat yang disajikan oleh tim ekonomi Jokowi, maka pasca pandemi Covid-19 ini banyak membantu kesulitan ekonomi keluarga mereka dan ekonomi Indonesia diyakini akan kembali bangkit," pungkas Firman.[dod]

Komentar Pembaca