Pesan Burung Garuda Pancasila

Opini  MINGGU, 12 JULI 2020 , 10:01:00 WIB

Pesan Burung Garuda Pancasila

Garuda Pancasila/Net

SAYA mendapat cindramata Burung Garuda dari tokoh-tokoh pewayangan belum lama ini.

Jujur, teramat bangga saya mendapatnya cinderamata tersebut. Karena saya merasa tidak mempunyai prestasi apa-apa di negara Indonesia.

Saya hanya seorang rakyat biasa. Bahkan posisi saya pun sama seperti kebanyakan rakyat lainnya. Sebagai rakyat pelengkap penderita.

Malam harinya saya menatap Burung Garuda tersebut. Seolah saya dapat berbicara dengan Burung Garuda itu.

Tiba-tiba saya melihat kepalanya tertunduk dan sayapnya tidak terkepak. Saya bertanya kepada Burung Garuda kenapa tertunduk dan sayapmu tidak terkepak?

Saya malu dan sangat menderita saat ini, jawabnya. Burung Garuda, para pendahulu Indonesia memilih saya sebagai pelindung karena kekuatan, kegagahan, keperkasaan, ketulusan, serta kemampuan saya untuk melindungi, menjaga serta membawa Pancasila.

Maka letak Pancasila letaknya berada di dada saya bukan di punggung saya dengan sayap terbuka/terkepak dan saya menoleh ke kanan sebagai pertanda kebaikan dan ketulusan.

Seandainya Pancasila berada di pundak saya, akan saya tinggalkan atau kembalikan kepada orang yang meminta saya menjaganya serta membawanya.

Saya benar-benar dipermalukan saat ini dengan sifat dan perilaku penerus para pejabat di Indonesia.

Saya sangat bangga dan bersemangat dahulu, karena kata-kata "Garuda Pancasila akulah pendukungmu, patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu, Pancasila Dasar negara, rakyat adil makmur sentosa, pribadi bangsaku, ayo maju-maju, ayo maju-maju, ayo maju-maju".

Kini syair tersebut hanya sebuah illusi dan tipu daya oleh sifat dan perilaku mereka yang memiliki posisi dan jabatan.

Saya benar-benar sangat kecewa. Penjajah dapat kami taklukkan. Beberapa kali Pancasila digoyang dapat saya pertahankan, walaupun begitu kuatnya campur tangan negara-negara asing.

Kini Pancasila diutak-atik lagi hanya untuk kepentingan-kepentingan kecil dan recehan.

Bahkan saya sebagai lambang negara saat ini hanya tinggal sebuah kiasan yang tidak berarti dan bermakna.

Saat saya hanya mampu untuk bersabar dan bertahan. Sebab kalau saya marah, kemarahan saya akan mengorbankan rakyat yang lebih banyak.

Karena saya tidak diberikan hak untuk memilih-milih korban kemarahan saya

Seandainya hak itu diberikan, maka 90 persen mereka yang memiliki jabatan dan posisi yang akan saya korbankan. Sebab saat ini mereka memaksa saya untuk menoleh ke kiri.

Separah itukah situasi Indonesia saat ini wahai Burung Garuda?

Ya sangat memprihatinkan jawabnya. Itulah sebabnya saat ini saya tertunduk dan sayap saya tidak terkepak.

Namun tidak perlu takut dan kecewa. Begitu saya mendapat dukungan kembali dari seluruh rakyat Indonesia sesuai sumpah dan janjinya, kepala saya akan kembali menoleh ke kanan dan sayapku akan terkepak selebar-lebarnya untuk menyingkirkan mereka yang memaksa saya menoleh ke kiri serta membuat tertunduk

Alam sedang melakukan tugasnya melalui seleksi saat ini, dan tidak ada penyesalan bagi mereka yang memaksa saya menoleh ke kiri serta membuat rakyat sengsara.

Percayalah, rakyat Indonesia akan bangkit kembali bila pesan saya ini kamu sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Saatnya saya menuntut kembali keberanian Patriot Proklamasi yang siap berkorban untuk rakyat adil makmur sentosa.

Agar bergerak sesuai dengan sumpah dan janji mereka.

Sampaikanlah pesan ini dengan tulus dan tanpa pamrih serta bubuhkan pengirim pesan Burung Garuda Pancasila dalam pesan tersebut, agar khalayak ramai serta rakyat Indonesia memahami pesan tersebut.

Merdeka. Salam Pancasila. Salam Bhinneka Tunggal Ika

Burung Garuda Pancasila, terimakasih atas kepercayaan yang diberikan untuk menyampaikan pesan ini.[]

Tomu Augustinus Pasaribu Direktur Eksekutif Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I)

Komentar Pembaca