Koperasi Dan Kaum Milenial

Opini  MINGGU, 12 JULI 2020 , 16:42:00 WIB

Koperasi Dan Kaum Milenial

Logo Koperasi/Net

HARUS jujur kita akui bersama bahwa sampai usianya ke-73, Koperasi Indonesia belum mampu menjalankan peran sebagai Soko Guru Perekonomian Bangsa sesuai mandat UUD 1945.

Ironi ini disebabkan kekuatan faham ekonomi kapitalis lebih dominan sampai menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat, sehingga rakyat hanya dijadikan pasar untuk dieksploitasi.

Padahal bila dicermati secara akal sehat, sebenarnya niatan untuk menumbuhkan perekonomian bangsa seharusnya kita kembalikan lagi kepada komponen Produk Domestik Bruto (PDB) yang 60% dipegang oleh andil konsumsi rumah tangga.

Berarti logikanya harus diberikan perhatian serius pada sektor riil yang bersentuhan langsung dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Lalu berikutnya sudah teramat jelas bahwa pemeran utama dari sektor riil adalah koperasi, pelaku UMKM, dan pekerja informal.

Jadi memang sangat ironis bahwa ekonomi kerakyatan yang selalu diharapkan menjadi penyelamat ekonomi dalam setiap krisis, tapi tidak pernah mendapat perhatian serius dan bahkan seringkali dianaktirikan

Dalam era digitalisasi dan teknologi sekarang pun, koperasi diyakini sebagai badan usaha yang paling sesuai dengan generasi milenial, mengingat komposisi generasi milenial adalah sekitar 40% dari total penduduk Indonesia, atau berjumlah sampai 100 juta orang.

Karakter dan preferensi milenial yang senang kumpul atau guyub, lalu trend "sharing economy" yang digemari generasi milenial, serta menjunjung tinggi kesetaraan atau egaliter dianggap sangat erat dengan koperasi.

Kesesuaian koperasi sebagai badan usaha yang paling cocok dengan generasi milenial dapat terlihat dari rapat anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi sejalan dengan karakter milenial yang senang kumpul menjadi tersalurkan secara positif.

Lalu karakter ekonomi berbagi yang trend dalam generasi milenial dapat terakomodir dengan adanya pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Yang terakhir generasi milenial yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan sudah otomatis sejalan dengan jati diri koperasi yang menganut one man one vote, dan bukan one share one vote seperti pada PT.

Nah apabila kampanye ini terus menerus didengungkan, serta bahkan bila ada regulasi pemerintah yang mengatur keberpihakan konkret kepada koperasi, maka Indonesia akan memiliki strategi yang extra ordinary guna mendorong pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19 serta bahkan siap rebound untuk melesat tinggi mewujudkan Visi Indonesia Maju 2030 dan Visi Indonesia Unggul 2045.

Kolaborasi yang kuat antara generasi milenial dengan pendorong pemanfaatan teknologi digital tetapi tetap berdasarkan modal sosial yang kuat berwadahkan koperasi merupakan sebuah Transformasi Extra Ordinary Ekonomi Kerakyatan 5.0.[]

Frans Meroga Panggabean Praktisi Koperasi Milenial

Komentar Pembaca