Sengketa Pewaris Tahta Hasnur Group Rp 4 T Diproses Di Polda Metro

Hukum  SELASA, 14 JULI 2020 , 11:41:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sengketa Pewaris Tahta Hasnur Group Rp 4 T Diproses Di Polda Metro

Otto Hasibuan/Net

Harta warisan Tahta Hasnur Group yang diperkirakan senilai Rp4 triliun diproses di Polda Metro Jaya dengam dugaan tindak pidana penggelapan dan pemalsuan surat.

Hal ini lantaran terjadi pengalihan saham beberapa perusahaan yakni, PT Hasnur Jaya Utama, PT Barito Putra, dan PT Hasnur Jaya International menjadi milik anak-anak dari istri pertama tanpa melibatkan anak-anak dari istri-istri Abdussamad lainnya.

Otto Hasibuan selaku kuasa hukum Yulia Asmarawaty HAS dan Herry Aswandi HAS, anak-anak kandung Abdussamad dari istri yang lain, membenarkan adanya laporan ke Polda Metro terkait dugaan penggelapan dan pemalsuan surat tersebut.

"Ya, sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 16 Maret 2020, dengan nomor: LP/1768/III/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ," kata Otto di Jakarta, Senin (13/7).

Dalam salinan resume kasus yang diterima, terungkap Abdussamad Sulaiman menikah dengan Herawati pada 17 Oktober 1973, secara resmi sesuai hukum agama dan negara.

Dari pernikahan tersebut lahir dua anak yakni, Yulia Asmarawaty HAS dan Herry Aswandi HAS. Namun, pada 5 Juli 1977, keduanya memutuskan bercerai.

Pada 14 Juni 2015, Abdussamad meninggal dunia. "Secara hukum, sebagai anak yang lahir dari pernikahan yang resmi, tentu kedua anak tersebut merupakan ahli waris yang sah," terang Otto.

Sepeninggal Abdussamad, harta peninggalan dikuasai oleh 7 orang yakni, Rachmadi HAS, Jayanti Sari, Nila Susanti Zulfikar, Hasnuryadi Sulaiman, Hasnuryani, Yuni Abdi Nur HAS, dan Zainal Hadi HAS.

Sementara Yulia dan Herry tidak memiliki akses langsung atas seluruh harta peninggalan Abdussamad.

Tidak itu saja, terjadi peralihan harta peninggalan Abdussamad yang tanpa sepengetahuan dan persetujuan ahli waris lainnya yakni saham di beberapa perusahaan.

Total nilai saham milik Abdussamad sebesar Rp175,9 miliar dari 3 perusahaan yakni PT Hasnur Jaya Utama, PT Barito Putera, dan PT Hasnur Jaya Internasional telah dialihkan menjadi milik anak-anak istri pertama. Itu belum terhitung sejumlah saham milik Abdussamad di beberapa perusahaan lainnya.

"Sejauh ini, pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah pihak, mulai dari Yulia dan Herry. Seharusnya kalau ada pengalihan saham harus disetujui oleh semua ahli waris, bukan sepihak," tegas Otto.

Dijelaskannya, Yulia dan Herry merupakan ahli waris yang sah karena kedua orangtuanya menikah secara resmi.

"Kami belum tahu, apakah ke-7 anak dari yang katanya istri pertama, juga ahli waris yang sah dengan bukti-bukti otentik. Masih perlu diuji," ujar Otto.

Kata Otto, kalaupun ke-7 anak itu ahli waris yang sah, maka pembagiannya akan disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan, baik hukum nasional maupun hukum Islam. Yulia dan Herry punya hak yang sama dan tidak boleh diabaikan.

"Kasus pengalihan saham tanpa izin seluruh ahli waris jelas sudah melanggar hukum. Bahkan kalau pun ada harta-harta peninggalan yang lain harus diberikan kepada klien kami, sebagai ahli waris yang sah," ucap Otto.

Selain melaporkan ke polisi, Otto mengaku, tengah mempersiapkan gugatan perdata.

"Jadi, tinggal dibuktikan ke-7 anak istri pertama itu benar-benar ahli waris yang sah atau tidak," pungkas Otto.[dod]

Komentar Pembaca
Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

RABU, 29 JULI 2020 , 10:05:00

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

RABU, 29 JULI 2020 , 13:29:00