Ekonomi Jakarta Terpuruk Gara-gara Corona, Optimalisasi Kredit Jadi Solusi

Bisnis  RABU, 22 JULI 2020 , 18:03:00 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Ekonomi Jakarta Terpuruk Gara-gara Corona, Optimalisasi Kredit Jadi Solusi

Narasumber diskusi virtual Koordinatoriat Wartawan Balaikota-DPRD DKI Jakarta/Ist

Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) memilki dampak besar terhadap roda perekonomian di Jakarta. Optimalisasi kredit mikro diharapkan menjadi solusinya.

Demikian disampaikan Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang dalam diskusi bertajuk "Optimalisasi Kredit Usaha Mikro Untuk Pulihkan Ekonomi Jakarta" yang digelar Koordinatoriat Wartawan Balaikota-DPRD DKI Jakarta atau Balkoters, Rabu (22/7).

"Di tengah kondisi ini kita tahu bahwa ribuan bidang usaha menengah dan besar juga stagnan. Kemudian juga ratusan ribu UMKM kita mati suri dan kita lihat sendiri PHK sudah mencapai 500 ribu orang dan masih akan terbuka ini bertambah apabila masalah kebijakan Covid tidak jitu," kata Sarman.

Selain itu, kata Sarman, pandemi Corona juga mengakibatkan investasi tertahan, ekspor menurun dan daya beli masyarakat turun drastis yang akhirnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Hal ini bukan saja dialami oleh dunia usaha, tetapi juga pemerintah daerah dan pusat akibat banyak sumber pajak yang ada sudah tidak beroperasional lagi.

"Nah kita melihat hampir semua sektor yang menggerakan ekonomi di Jakarta itu terpuruk. Mulai pariwisata, hotel, restoran, kafe, bar konser, hingga ke UMKM semua sangat terpuruk. Walau ada beberapa yang bertahan seperti e-comerce, logistik farmasi, alat kesehatan, sembako dan layanan antar makanan. Kondisi di Jakarta ini akan mempengaruhi kondisi ekonomi nasional di mana 18,10 persen kegiatan ekonomi negara ada di Jakarta (triwulan I 2020) dan perputaran uang ada 70 persen di Jakarta," papar Sarman.

"Karenanya harus dicari solusi bersama. Pertama pastikan penyebaran Covid-19 semakin menurun dan terkendali. Kemudian buat kebijakan yang pro kepada bidang usaha," ujar Sarman.

Sementara Kadiv Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Jakarta Djoko Raharto melihat adanya dampak negatif pada supply stock dan demand stock akibat kegiatan produksi yang berhenti secara otomatis dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Otomatis pendapatan masyarakat turun, konsumsi terdampak. Demikian juga investasi, di mana dunia usaha menunda untuk melakukan investasi sampai kondisi normal. Kemudian UMKM memang dampaknya itu tergantung usahanya. UMKM sektor pertanian untuk makanan jadi dampaknya lebih rendah karena mereka punya alternatif pemasaran digital. Sementara untuk kerajinan terdampak cukup berat. Padahal UMKM ini memiliki cukup banyak jumlah pekerja," kata Djoko.

Karenanya, kata Djoko, kebijakan yang bisa diambil pemerintah dalam jangka pendek adalah mendukung stimulus ekonomi agar dunia usaha bisa terkurangi dampaknya. Kemudian jangka panjang harus ada pemulihan ekonomi, termasuk saat ini PSBB transisi yang diharapkan bisa berjalan dengan lancar.

"Termasuk dengan memberikan pembiayaan kredit, juga pelatihan pemasaran dan produksi bagi UMKM," tutur Djoko.

Untuk pembiayaan kredit bagi usaha oleh perbankan, ungkap Djoko, mencapai Rp1.811 triliun di mana dari jumlah itu sebesar Rp149 trilun di antaranya disalurkan ke UMKM, dan dari Rp149 triliun ini, untuk kredit mikro berjumlah Rp113 triliun atau hampir 65%.

"Nasabah UMKM di DKI itu ada 1.351.223 rekening dengan ada 878.301 rekening ini adalah nasabah mikro. Meski banyak, dari sisi performa, non performance loan (NPL) mikro ini paling kecil hanya 2,1 persen. Kalau total kredit NPL-nya 2,74 persen, UMKM 3,5 persen, untuk mikronya 2,1 persen. Jadi sektor ini cukup baik dalam performa pembiayaan kredit," terang Djoko.

Bank DKI selaku Bank Pembangunan Daerah (BPD) merespon Covid-19 dengan melakukan langkah-langkah antisipasi.

"Pertama, kita melakukan quick check portofolio kredit yang kita miliki. Respons kedua kami melakukan pemetaan sektor yang terdampak menghitung eksposur risiko bagi industri yang sangat terdampak Covid. Ketiga, kami lakukan identifikasi per debitur berinteraksi menanyakan bagaimana dengan kondisi usahanya dan keluarganya, apakah aman dari pandemi. Keempat, penyusunan skenario pelaksanaannya," kata Pemimpin Grup Kredit UMKM Bank DKI Wahyudi Dwi Irawan.

Wahyudi merinci, relaksasi yang diberikan di antaranya kepada debitur kredit mikro, kecil dan konsumer.

Bank DKI, kata dia, juga melakukan penangguhan terhadap pokok pinjaman dan menurunkan suku bunganya. Kemudian menambah tenor pinjaman.

Relaksasi ini diberikan sesuai dengan kategori pelaku UKM tersebut. Misalnya debitur yang sistem perputaran uangnya (cash flow) terhenti sejak pandemi Covid-19 mulai ada di Jakarta.

Sementara bagi pelaku usaha yang omzetnya turun 20 persen hingga 80 persen, pihaknya akan menurunkan suku bunga pinjaman.

"Dari debitur yang kami hubungi ada 41 persen debitur yang terdampak. Semua kami tangguhkan pokok pinjaman dalam jangka waktu enam bulan, tapi setiap tiga bulan akan kami review kembali," ungkap dia yang juga menyebutkan nominal kredit yang dipegang (outstanding) Bank DKI saat ini adalah Rp1,3 triliun

Selain itu, untuk debitur yang saat ini diberikan relaksasi, Bank DKI menyebut mereka masih tetap bisa mengakses permodalan tambahan apabila nanti kembali lagi kondisinya normal untuk menggerakkan sektor ekonomi di Jakarta.

"Kami juga sudah siapkan dana untuk pelaku usaha baru yang memulai bisnis di masa new normal," ucap Wahyudi. Data dari Pemprov DKI Jakarta, outstanding yang diberikan oleh bank umum baik kredit mikro, usaha kecil maupun menengah dalam 3 tahun terakhir terjadi peningkatan UMKM sendiri di Jakarta berdasarkan sensus tahun 2016 mendominasi dengan jumlah sekitar 1,15 juta usaha. atau sekitar 93,46 persen di Jakarta.[dod]

Komentar Pembaca
Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

Terpeleset, Pesepeda Tewas Di Bendungan Tiu

RABU, 29 JULI 2020 , 10:05:00

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

Gedung DPRD DKI Disemprot Disinfektan

RABU, 29 JULI 2020 , 13:29:00