Bimbangisme Sebagai Daya Energi Belajar

Suara Rakyat  SENIN, 27 JULI 2020 , 23:01:00 WIB

Bimbangisme Sebagai Daya Energi Belajar

Jaya Suprana/Net

SATU di antara sedikit ihwal yang sedang saya pelajari dari sekian banyak ihwal di alam semesta ini adalah apa yang disebut sebagai pemikiran.

Kesimpulan

Satu di antara sedikit kesimpulan yang bisa dengan daya pikir dangkal saya petik dari pembelajaran pemikiran adalah bahwa hanya ada satu dan satu-satunya kebenaran yang sempurna di alam semesta ini, yaitu kesadaran bahwa tidak ada pemikiran yang sempurna di alam semesta ini akibat manusia mustahil sempurna.

Sebagai akibat dari kesadaran bahwa manusia terutama diri saya sendiri mustahil sempurna, maka tidak ada pemikiran yang sempurna adalah keniscayaan saya merasa bimbang atas kebenaran pemikiran diri saya sendiri. Semula saya pikir hanya diri saya seorang diri saja yang terjangkit penyakit bimbangisme maka saya mencoba mempelajari pemikiran yang kerap kali agar terkesan keren disebut sebagai filsafat.

Tiga Jenis Pemikir

Dari hasil pembelajaran saya yang tentu saja jauh dari kesempurnaan, dapat ditengarai terdapat minimal tiga jenis pemikir. Yang pertama adalah mereka yang merasa yakin telah berhasil menemukan makna kebenaran yang sempurna maka gigih bertahan pada keyakinan bahwa pemikiran mereka sudah sempurna benar dalam makna sebenar-benarnya kebenaran dalam kesempurnaan.

Yang kedua adalah mereka yang merasa yakin bahwa tidak ada kebenaran yang sempurna di alam semesta ini maka mereka memilih untuk berhenti mencari makna kebenaran sebab yakin bahwa kebenaran yang sempurna itu tidak ada bahkan mustahil ada. Yang ketiga adalah mereka yang sadar bahwa tidak ada kesempurnaan di dalam apa yang disebut kehidupan ini, namun di samping kesadaran itu ada suatu energi yang memberi harapan bahwa sebenarnya ada makna kebenaran yang sempurna di alam semesta ini.

Konflik antara kesadaran versus harapan menimbulkan bimbangisme yang menyebabkan para penderitanya terus berusaha mencari kesempurnaan, padahal kesempurnaan itu tidak ada. Bimbangisme menyebabkan penderitanya tidak berhenti di tempat namun terus bergerak perpetuum mobile sebagai niat mencari kesempurnaan demi terus berupaya mendekatkan diri ke kesempurnaan, meski sadar bahwa kesempurnaan mustahil dapat dicapai.

Pesimis tapi tetap nekat optimis mirip kisah pencarian Don Quixote-nya Cervantes atau kemubaziran perjuangan Sisyphus. Bahkan para penganut aliran bimbangisme gemar mengkritik bimbangisme itu sendiri atas keyakinan bahwa tidak ada yang bisa diyakini bahwa ada pemikiran yang sempurna. Termasuk bimbangisme.

Kategori

Apabila dipaksakan untuk dikategorikan, maka mereka yang masuk kategori jenis pemikir yang pertama adalah para mahapemikir yang secara dogmatis merasa yakin sudah berhasil menemukan kebenaran seperti misalnya Konfusius, Aristoteles, Cleitomachus, Carneades, Epicurus, Agustinus dan yang sejenis. Yang masuk kategori ke dua adalah mereka yang tidak sudi memubazirkan energi lahir-batin mereka untuk memikirkan ikhwal yang dianggap tidak perlu dipikirkan sebab dianggap tidak ada manfaat” apa pun terhadap upaya manusia menempuh perjalanan hidup masing-masing, apalagi secara bersama.

Yang masuk kategori ke tiga adalah para penyandang bimbangisme seperti Lao Tse, Siddharta, Cervantes, Kierkegaard, Schopenhauer, Russel, Camus, Orwell, Sartre yang kini memperoleh cantrik baru yaitu saya. Tentu saja pengkatagorian tersebut niscaya siap dikritik dan dikoreksi sebab pasti sekadar suatu hasil pemikiran yang tidak sempurna!

Pengkategorian an sich juga terbatas das Sein tanpa niat ikhtiar menuju das Sollen.

Ikhtiar

Mohon dimaafkan bahwa akibat sadar bahwa diri saya jauh dari kesempurnaan masih ditambah dengan falsafah Ojo Dumeh dan ajaran Jesus Kristus tentang jangan menghakimi serta Jihad Al Nafs yang kesemuanya secara das Sollen mengajarkan saya untuk jangan sombong, sebab tidak punya apa pun yang layak disombongkan, maka saya menghayutkan diri ke dalam arus bimbangisme. Namun demi tidak menyelakakan sesama manusia, saya tidak berani mengajak orang lain bergabung ke aliran bimbangisme yang jelas tidak sempurna, maka memiliki keterbatasan dan kekeliruan secara berlimpah ruah.

Selama merasa tidak merugikan kepentingan orang lain, saya tidak bimbang untuk menghanyutkan diri ke dalam arus aliran bimbangisme sambil berupaya mempelajari kelirumologi, malumologi, humorologi, alasanologi, andaikatamologi, kemanusiaanologi, dan lain-lain logi-logi.

Bimbangisme melenyapkan segenap aura sakral yang memberhalakan segenap ihwal di alam semesta ini sehingga membebaskan belenggu pada kalbu saya untuk leluasa mempelajari ihwal apa pun yang bisa saya pelajari. Bimbangisme merupakan energi bagi saya untuk belajar, belajar dan belajar sampai saat akhir hayat dikandung badan di dunia fana ini.

Pada hakikatnya atas kesadaran mau pun ketidak-sadaran akibat keyakinan bahwa diri tidak sempurna, maka bimbangisme merupakan suatu daya energi ikhtiar untuk selama hayat masih dikandung badan terus-menerus berupaya mendekatkan diri saya ke arah Yang Maha Sempurna. Para atheis atau para pembimbang eksistensi Yang Maha Sempurna silakan menertawakan kedunguan saya, namun mohon berkenan mengampuni kedangkalan kalimat sebelum kalimat terakhir ini. []

Penulis Adalah Seorang Pembelajar Abadi Sampai Akhir Hayat Dikandung Badan



Komentar Pembaca