Sagu Diharapkan Masuk Manajemen Logistik Nasional, Ini Alasannya

Bisnis  SABTU, 29 AGUSTUS 2020 , 16:17:00 WIB | LAPORAN: ARI RAHMAN

Sagu Diharapkan Masuk Manajemen Logistik Nasional, Ini Alasannya

Irwan Nasir dan Prof. Djohermasyah Djohar

Ketersediaan pangan global dan nasional diperkirakan akan semakin mengkhawatirkan akibat belum meredanya Pandemi Covid-19. Atas kondisi ini, Pemerintah pusat melalui Perum Bulog diminta agar memasukkan sagu dalam managemen Logistik Nasional.

Hal ini disampaikan Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir dalam diskusi terbatas dengan sejumlah pemimpin redaksi media nasional yang dipandu Koki Otonomi Profesor Djohermansyah Djohan (Prof Djo), di kantor Institut Otonomi Daerah (i-Otda), Menteng, Jakarta Pusat.

"Sejumlah negara pengeksport beras terpaksa menghentikan eksport berasnya. Sebut saja negara Thailand, negara yang dijuluki negeri Gajah Putih ini sudah tiga bulan menghentikan eksport berasnya ke negara-negara Asean," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (29/8)

Malang bagi negara kita, lanjutnya, yang masih tergolong negara pengimport beras. Meski stock beras nasional aman hingga tahun 2021, diperkirakan ketersediaan beras kita akan semakin menipis akibat tertutupnya kran import beras.

Yang paling mengkwatirkan, jumlah luas lahan sawah setiap tahun terus berkurang akibat pengembangan wilayah pemukiman dan pembangunan kawasan industry.

"Setiap tahun luas lahan sawah kita jauh berkurang, akibat pertambahan jumlah penduduk yang memerlukan pembangunan pemukiman," kata Irwan Nasir.

Itulah sebabnya, ujar Irwan Nasir yang juga Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Seluruh Indonesia (Fokus Kapasindo), Meranti, tak pernah berhenti memperjuangkan agar pemerintah pusat membuat kebijakan komoditi Sagu menjadi  alternatif dan solusi ketahanan pangan nasional.

Bulan lalu, Irwan pun telah menyambangi  Perum Bulog di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Irwan  meminta kepada pihak Perum Bulog untuk menjadikan Sagu sebagai salah satu alternatif komoditi pangan Nasional.

"Sejak dahulu Kepalauan Meranti memang dikenal sebagai penghasil produksi Sagu Nasional. Karena itulah  dia berharap sagu dari Kepalauan Meranti dapat dibeli Perum Bulog, agar dapat dipasarkan dan dieksport ke manca negara, sebagaimana  layaknya beras," ungkap Bupati Meranti yang layak dijuluki predikat Presiden Sagu.

Prof. Djo yang memandu dialog interaktif kemudian menanyakan, berapa banyak jumlah produksi Sagu dari Kepulauan Meranti
 
Irwan lantas menjelaskan Kabupaten yang telah dipimpinnya hampir sepuluh tahun itu, merupakan daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia.  

"Perkebunan sagu Meranti telah menjadi sumber penghasilan utama hampir 20% masyarakat Meranti dengan luas Iahan 39.644 ha. Jumlah pabrik Sagu ada sebanyak 95 unit dengan hasil produksi tepung sagu mencapai 241.277 Ton/Tahun," katanya.

Irwan mengatakan, sebagian hasil produksi Sagu Meranti dijual ke Cirebon, Pekanbaru, Medan dan Malaysia.

Selain dari kebun sagu masyarakat, terdapat juga kebun Sagu milik PT Nasional Sagu Prima (NSP) seluas 21.000 ha yang diberi izin dan telah diolah seluas 14.000 ha.

Hebatnya lagi, hasil produksi sagu dari Kepulauan Meranti ternyata telah diekspor ke berbagai Negara di antaranya Jepang, Korea Selatan dan Singapura.

Namun, mewabahnya pandemi Covid 19, juga  sangat berdampak terhadap pemasaran hasil produksi tepung sagu. Efeknya, kondisi ekonomi petani sagu di Kepalauan Meranti juga terdampak.

Maka satu-satunya jalan adalah,  Irwan berharap kepada Perum Bulog RI agar dapat menampung dan membeli hasil produksi tepung sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti.

"Pemerintah Pusat melalui Perum Bulog harus turun tangan memasukkan Sagu dalam managemen Logistik Nasional. Caranya dengan menampung dan membeli hasil produksi Sagu masyarakat layaknya Bulog membeli beras sehingga memberikan jaminan kepada masyarakat pengolah Sagu di sektor pemasaran,"paparnya dalam diskusi tersebut.

Sejauh ini Pemda Meranti menurut Irwan telah membangun Pabrik berskala kecil yang dapat mengolah Sagu menjadi beras Sagu dengan kapasitas 700 Kg/Hari dan mampu memproduksi 20 Ton Sagu basah/hari yang dapat diolah menjadi berbagai makanan seperti Mie dan lainnya.

Dihadapan para awak media nasional yang hadir, Irwan mengatakan sangat yakin bahwa sagu akan menjadi alternative pilihan pangan yang tepat untuk  menjadikan Indonesia mencapai kedaulatan pangan.[rah]

Komentar Pembaca
Bengkel Di Setiabudi Terbakar

Bengkel Di Setiabudi Terbakar

MINGGU, 04 OKTOBER 2020 , 17:51:00

Stadion Patriot Disulap Jadi RS Darurat

Stadion Patriot Disulap Jadi RS Darurat

JUM'AT, 11 SEPTEMBER 2020 , 19:22:00

Bangunan Ruko Di Cideng Ambruk

Bangunan Ruko Di Cideng Ambruk

KAMIS, 03 SEPTEMBER 2020 , 17:03:00