Sepeda Masuk Tol Gagasan Kontraproduktif Lawan Covid-19

Suara Rakyat  SENIN, 31 AGUSTUS 2020 , 17:01:00 WIB

Sepeda Masuk Tol Gagasan Kontraproduktif Lawan Covid-19

Anies Baswedan/Ist

BELAKANGAN sederet kebijakan kontroversial seperti peluru yang ditembakkan dari pistol Pemprov DKI Jakarta yang akhirnya memicu polemik.

Setelah pelaksanaan PPDB berbasis umur dan reklamasi Ancol, kini kebijakan yang mengharu biru warga Jakarra adalah gagasan sepeda masuk jalan tol.

Niatnya, para pesepeda dapat road bike di pagi akhir pekan sambil menikmati keindahan langit Jakarta melalui Jalan Layang Tol DI Panjaitan-Ahmad Yani.

Kontroversi sepeda masuk tol masuk kategori viral kelas satu. Isunya hot, seksi, dan menarik untuk jadi bahan ejek-mengejek para buzzer.

Demontrasi unjuk kebolehan menulis, dan respon masyarakat bertebaran di dunia maya. Semua ini sebagai simbol pesan untuk mengklaim bahwa kita yang top, dan kalian bodoh!

Tak tanggung-tanggung, pembenaran argumen sepeda masuk tol seakan-akan didesain sedemikian rupa bagaikan sajian makanan kue lemper lezat yang diolah dengan klaim dukungan menteri PUPR, kepolisian, dan penasehat Direksi PT. Cipta Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), H Jusuf Hamka.

Bumbu rahasianya pakai istilah untuk menyenangkan warga Jakarta dan dibungkus dengan "daun pisang" demi kebijakan pro rakyat.”

Sejatinya, kebijakan mengizinkan sepeda masuk jalan tol dapat dikatakan bertentangan dengan UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan pada Bab V Jalan Tol Bagian Pertama Umum pada Pasal 43 ayat (1).

Diantaranya disebutkan, jalan tol diselengarakan untuk memperlancar lalu lintas di daerah yang telah berkembang.

Tidak ada klausul yang menyebutkan bahwa jalan tol untuk bersepeda ria. Bila keinginan sepeda masuk jalan tol diikuti oleh daerah lain di Indonesia, maka akan bisa menganggu fungsi keberadaan jalan tol secara nasional.

Hampir dapat dipastikan 99 persen Menteri PUPR akan mengizinkan gagasan ini. Sebab diduga kuat telah dikoordinasikan secara matang.

Ide ini pun telah dikaji secara hati-hati dan disimpulkan bahwa usulan ini aman. Ada celah aturan yang bisa dijadikan dasar sepeda masuk tol. Untuk menangkis serangan netizen dan membantah penolakan masyarakat pun telah disiapkan argumentasi logis yang sangat masuk akal.

Mulai dari diskresi Menteri PUPR, CSR PT CMNP, keamanan terjamin dengan rekayasa lalu lintas contraflow.

Dan alasan bersepeda ria di tol adalah hanya untuk sebuah even sebagai wujud kepedulian yang diberikan Gubernur Anies Bawesdan, BUJT PT CMNP, dan Menteri PUPR kepada para biker.

Tak cukup dengan alasan pembelaan tersebut, mereka juga memperbandingkan jalur sepeda tol di negara lain untuk menjelaskan kalau Anies adalah gubernur visioner

Dengan demikian, maka sebaiknya jangan habiskan energi dan hanyut terserap pro dan kontra usulan sepeda masuk tol. Biarkan saja gagasan itu berjalan. Toh bila terlaksana pun, tak akan bertahan lama. Paling-paling hanya satu minggu atau lima minggu berjalan.

Masyarakat juga akan bosan dengan bersepeda ria di jalan tol, karena ada banyak alternatif jalan lain yang lebih asyik dan aman. Lagi pula pemanfaatan jalan tol untuk bersepeda ria dengan jangka waktu lama hingga berminggu-minggu akan menganggu lalu lintas di jalan tol dan merepotkan BUJT PT. CMNP

Bila Kita mencermati secara mendalam, maka sesungguhnya gagasan sepeda masuk jalan tol adalah gambaran dari ketidakmampuan pemerintah membahagiakan warganya dalam menyediakan jalan khusus sepeda pada semua jalan provinsi di daerahnya.

Sehingga untuk menutupi kelemahan itu boleh jadi dipilihlah jalan pintas dengan ide sepeda masuk jakan tol.

Sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat Jakarta saat ini adalah penanganan Covid-19, bukan hal lain.

Masyarakat Jakarta sudah sangat resah dan khawatir. Mereka ingin Pemprov DKI Jakarta fokus untuk dapat motong mata rantai penyebaran virus dari China tersebut. Apalagi jumlah kasus positif Covid-19 dari hari ke hari terus tambah.

Data pada situs corona.jakarta.go.id per 30 Agustus 2020 menunjukkan, pada hari itu terjadi penambahan 1.114 kasus Covid-19, sehingga secara akumulatif sejak Maret 2020, jumlah warga yang terinfeksi Covid-19 sebanyak 39.280 orang, dengan jumlah yang meninggal sebanyak 1.186 orang dan yang sembuh 30.134 orang.

Tingginya angka penularan Covid-19 di Jakarta bisa saja terus meningkat jika pesepeda diizinkan menggunakan tol, karena kegiatan ini mengumpulkan banyak orang yang berinteraksi.

Menurut Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, data yang diperolehnya menyebutkan 70 persen sampai 90 persen orang-orang yang terpapar Covid-19 adalah yang tanpa gejala. Mereka berpotensi menularkan dan menyebarkan virus, baik di tempat umum maupun di dalam rumah. Akibatnya sangat fatal bagi kelimpok rentan.

Jadi bila ada orang tanpa gejala yang terpapar Covid-19 (OTG) ikut bersepeda ria di jalan tol, maka akan dapat meyebarkan virus asal China ini kepada para pesepeda lainnya.

Kebijakan sepeda masuk tol dapat menjadi kluster baru penyebaran Covid-19, karena kontraproduktif dengan imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk bersama-sama perang melawan Covid-19.[dod]

Sugiyanto Ketua Umum Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru

Komentar Pembaca
Setahun Penuh Gaduh Dan Demo Yang Dirindukan
Pendapatan Cekak Utang Segunung, Kemana Hasil Utang Mengalir?
Giliran Bupati

Giliran Bupati

SENIN, 19 OKTOBER 2020

Jenguk Para Korban Demo UU Cipta Kerja, Anies Tunjukkan Leadershipnya
Setelah UU SSW

Setelah UU SSW

JUM'AT, 16 OKTOBER 2020

Terima Kasih Pak Anies

Terima Kasih Pak Anies

KAMIS, 15 OKTOBER 2020

Bengkel Di Setiabudi Terbakar

Bengkel Di Setiabudi Terbakar

MINGGU, 04 OKTOBER 2020 , 17:51:00

Kopassus-Koopsus TNI Gelar Olahraga Bersama Di Makopassus Cijantung
Stadion Patriot Disulap Jadi RS Darurat

Stadion Patriot Disulap Jadi RS Darurat

JUM'AT, 11 SEPTEMBER 2020 , 19:22:00