Amuk Orang Gila, Apakah By Design?

Suara Rakyat  SENIN, 14 SEPTEMBER 2020 , 14:46:00 WIB

Amuk Orang Gila, Apakah <i>By Design?</i>

Pelaku penusukan Syeikh Ali Jaber/Ist

SYEIKH Ali Jaber ditusuk (13/9). Di atas podium. Beberapa menit jelang ceramah di Masjid Falahuddin, Tanjung Karang Barat, Lampung. Di hadapan ratusan hingga ribuan jamaah. Pelakunya seorang remaja berusia 24 tahun.

Pisau mengenai lengan sebelah kanan. Akibatnya, enam jahitan di luka bagian dalam, dan empat jahitan di luka bagian luar.

Video kejadian penusukan Ali Jaber viral. Semua orang bisa membukanya. Ada yang bilang, si pelaku nyasar leher. Ada lagi yang bilang mau nyasar dada.

Ingat, itu semua nggak penting! Sebab, sasaran utamanya bukan Ali Jaber. Bukan terluka atau terbunuh. Bukan leher atau dada.

Sesuai pengakuannya, Ali Jaber tak punya masalah pribadi, atau kelompok. Lalu apa tujuan penyerangan ini? Dan siapa otak dibelakang remaja 24 tahun itu?

Penyerangan terhadap Ali Jaber mengingatkan kita pada sejumlah peristiwa penyerangan "orang gila" di tahun 2018. Dua di Bandung, dan satu di Cirebon. Peristiwanya beruntun dan terjadi dalam waktu yang tak lama berselang.

Entah sudah berapa kali terjadi pembacokan atau penusukan "orang gila" terhadap tokoh Islam. Mulai dari mubaligh, guru ngaji, imam masjid, dan sejenisnya. Pelakunya selalu diklaim sebagai "orang gila". Bahkan klaim ini muncul sebelum uji psikis.

Yang unik, "orang-orang gila" itu tahu sasarannya. Nggak ngasal, nggak ngawur, dan nggak salah bidikan.

Mereka tahu identitas ustadz, mubaligh, guru ngaji dan imam salat. Orang-orang gila ini pun bisa mengambil momentum yang tepat. Pura-pura tidur di masjid. Datangi rumah ustadz. Atau saat ustadz sedang berceramah. Ada perencanaannya juga. Terbukti, mereka membawa senjata tajam. Bukan nemu dan ngambil di jalan. Seperti sangat terlatih.

Ada pertanyaan lagi: Kenapa orang gila itu muncul saat ada kegaduhan politik? Adakah hubungannya dengan pressure MUI dan umat kepada penguasa? Atau ini hanya peristiwa kebetulan saja? Namanya juga bertanya, sah-sah saja dong...

Pertanyaan macam ini hadir untuk memenuhi rasa penasaran publik. Tentu tak boleh menuduh sebelum ada bukti. Tapi, siapa tertuduh dan siapa yang bisa membuktikan?

Penyerangan Ali Jaber, jika tak dituntaskan penyelidikan dan penyidikannya, akan memperkuat asumsi publik bahwa ini semacam operasi. Sebuah operasi untuk menyampaikan pesan penting. Pesan apa dan kepada siapa?

Yang pasti, peristiwa penusukan "orang-orang gila" kepada mubaligh, guru ngaji, imam masjid dan ustadz ini dirasakan oleh para aktivis keumatan sebagai sebuah teror yang serius. Terutama kepada mereka yang aktif melakukan gerakan moral-politik keummatan. Wajar jika kemudian ada yang curiga bahwa ini bagian dari operasi untuk menakut-nakuti para aktifis keummatan yang selama ini makin kritis kepada penguasa.

Sulit membayangkan bahwa peristiwa penusukan oleh "orang-orang gila" yang beruntun dan berulangkali terjadi ini hanya sesuatu yang bersifat kebetulan belaka.

Kenapa? Pertama, sasarannya selalu mubaligh, ustadz, guru ngaji dan imam salat. Kedua, kejadiannya berulang-ulang. Ketiga, ada perencanaan. Keempat, alat yang dipakai selalu mirip. Dari pisau, celurit atau parang. Kelima, seringkali peristiwa terjadi di saat situasi politik lagi kurang kondusif. Semoga asumsi ini salah.

Kejadian penyerangan ini seperti punya pola. Publik bertanya: adakah yang mendesign? Meski kecurigaan publik terus tumbuh, toh belum ada yang bisa mengurai bukti-buktinya.

Di sisi lain, muncul juga pertanyaan: Kenapa orang-orang gila itu tidak menyasar kepada para aktivis politik-keumatan? Ngeri! Kalau para aktivis keumatan yang disasar, seperti Din Syamsuddin, Abdullah Hehamahua, Habib Rizieq, Bachtiar Nasir, Rizal Ramli, Sobri Lubis, Slamet Ma'arif atau Yusuf Martak misalnya, maka dampaknya bisa panjang dan akan memicu gerakan sosial yang lebih besar. Bisa tak terkendali. Karena kemarahan publik bisa segera terkonsolidasi.

Jika asumsi dan spekulasi publik benar bahwa ada desain dibalik beruntun dan berulangnya peristiwa orang gila ini, maka yang menarik untuk diteliti adalah pola rekruitmen eksekutor dan sistem operasinya. Apakah melalui uang dengan merekrut orang-orang miskin yang kepepet kebutuhan finansialnya. Namanya juga kepepet, pekerjaan apapun akan dilakukan.

Atau menggunakan pola doktrin. Tentu ini akan makan waktu cukup lama. Karena butuh keyakinan dan pembinaan.

Atau dihipnotis. Cara hipnotis akan memerlukan waktu yang jauh lebih pendek dan instan.

Yang pasti, melihat polanya, ada yang menganalisis bahwa ini kerja profesional. Hampir nggak mungkin mampu dilakukan oleh pihak di luar operasi orang-orang yang terlatih.

Nah, disini aparat kepolisian harus berhasil mengungkap dengan terang benderang apa motif pelaku. Adakah pihak-pihak yang berada di belakang pelaku? Supaya spekulasi publik nggak berkembang liar. Jangan buru-buru konferensi pers dan mengatakan itu kerjaan orang gila. Ini justru akan membuat kecurigaan makin tinggi.[dod]

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Komentar Pembaca
Din Syamsudin Dan Nasib KAMI Ke Depan

Din Syamsudin Dan Nasib KAMI Ke Depan

SELASA, 29 SEPTEMBER 2020

Pajak Smart

Pajak Smart

SELASA, 29 SEPTEMBER 2020

Makin Diserang, KAMI Makin Terbang

Makin Diserang, KAMI Makin Terbang

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020

Kebangkitan PKI Itu Keniscayaan

Kebangkitan PKI Itu Keniscayaan

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020

Hujatan Tahunan

Hujatan Tahunan

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020

Angkamologi Lima

Angkamologi Lima

SABTU, 26 SEPTEMBER 2020

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Balkoters Berkurban

Balkoters Berkurban

SABTU, 01 AGUSTUS 2020 , 11:16:00

Danjen Kopassus Tutup Pendidikan Komando Angkatan 104