Anies Ditonjok, Dikeroyok Dan Ditohok, Anies Makin Populer

Suara Rakyat  SELASA, 15 SEPTEMBER 2020 , 09:48:00 WIB

Anies Ditonjok, Dikeroyok Dan Ditohok, Anies Makin Populer

Anies Baswedan/Ist

GUBERNUR Anies Baswedan ditonjok dengan tuduhan indeks saham anjlok di bawah 5000 gara gara DKI akan menerapkan kembali PSBB.

Padahal hari berikutnya juga naik lagi sebab naik turunnya indeka memang hal yang amat biasa dan cepat berubah ubah.

Lagi pula selama pandemi Corona indeks juga sempat anjlok di bawah 4000; Bukan cuma itu. Sebenarnya sejak pandemi indeks saham turun, kurs rupiah turun dan modal mengalir keluar negeri (out flow).

Jadi kenapa ribut? Para buzzer bayaran juga serempak mengeroyok Anies. Semua yang melihat Anies sebagai saingan atau lawan politik, seperti biasanya ikut menohok Anies dengan PSBB.

Akhirnya jagad raya media sosial diramaikan pro-kontra pemberlakuan kembali PSBB di DKI dengan warna menyerang maupun mendukung Anies.

Serangan-serangan tersebut nampaknya semakin meningkatkan popularitas Anies sebagai tokoh yang humanis yang ingin melindungi rakyatnya dari bahaya Covid-19.

Nama Anies menjadi semakin dikenal luas, bukan saja di DKI tapi di seluruh Indonesia.

Nampaknya Anies mampu melewati tekanan para pemburu rente dan buzzer orderan, yang terbukti dengan lolos dan diberlakukannya PSBB baru, meski sarat kompromi.

Sejak awal pandemi Corona, sikap (pejabat) pemerintah memang terbelah dua sesuai mazhabnya, yaitu mazhab yang lebih mementingkan ekonomi dan mazhab yang lebih mementingkan kesehatan.

Umumnya petinggi pemerintah pusat bermazhab ekonomi dengan dukungan kuat kalangan bisnis, sampai sampai ada konglomerat yang bersurat ke Presiden RI untuk mencegah diberlakukannya PSBB di DKI.

Para kepala daerah, dokter, dan tenaga medis umumnya bermazhab kesehatan, mungkin karena mereka lebih dekat dengan rakyat atau masyarakatnya. Serta melihat rekan sejawat mereka tewas karena Covid-19.

Mazhab ini pilih pain duluan, gain belakangan. Benturan mazhab ekonomi versus kesehatan ini masih berlangsung, lebih-lebih bila berhadapan dengan Anies Baswedan yang diasosiasikan sebagai bakal calon presiden 2024.

Karena itu dimensi perselisihan (tokoh) pusat dengan Gubernur DKI menjadi semakin tajam sebab selain perbedaan mazhab, juga karena sarat persaingan politik menuju 2024.

Relatif mudah melihat atau membedakan masing masing mereka dari mazhabnya. Kepala daerah umumnya bereaksi dan gelisah ketika yang terinfeksi corona dan atau tewas meningkat.

Sedangkan petinggi pusat gelisah dan bereaksi keras atau kebakaran jenggot ketika indeks saham tewas alias anjlok.

Padahal pasar saham itu pasar elite, bukan pasar rakyat. Pengikut mazhab dapat dilihat pula dari sikapnya dalam mengalokasikan APBN Covid-19.

Mana yang lebih besar pos anggaran untuk kesehatan atau untuk ekonomi. Jelas anggaran untuk menjaga dan memulihkan ekonomi lebih besar dari anggaran untuk memerangi Covid-19. Begitu pula realisasinya.

Saya kira secara nasional, pemenangnya adalah ekonomi”. Seakan kesehatan hanyalah batu loncatan semata, dan Corona telah dimanfaatkan untuk dijadikan kambing hitam atas banyak kegagalan target.

Pemerintah, tetapi dijadikan senjata pamungkas untuk mencapai tujuan tujuan elit termasuk yang bermotif komersil, naikkan defisit anggaran maupun untuk meningkatkan utang negara.

Seperti disebutkan di atas, sejak awal pandemi telah ada perbedaan mazhab dan ada indikasi bau tidak sedap yang ingin mengulang sukses menguras uang negara ala BLBI”.

Karena itu mau lock down, PSBB ataupun Herd Immunity, akan tetap saja heboh bersilang paham. Disinilah perlunya leadership yang tegas dan jelas.



Dan Presiden sudah menegaskan Kesehatan yang harus diutamakan. Dan Gubernur DKI sedang melaksanakan kebijakan Presiden tersebut.

Jadi kalau ada yang tidak setuju mestinya Presiden secepatnya menegaskan bahwa nyawa manusia itu lebih utama dari kepentingan bisnis, dengan konsekuensi Bansos dan sebagainya agar dijalankan secara benar dan sungguh-sungguh. []

Fuad Bawazier Eks Menteri Keuangan

Komentar Pembaca
Din Syamsudin Dan Nasib KAMI Ke Depan

Din Syamsudin Dan Nasib KAMI Ke Depan

SELASA, 29 SEPTEMBER 2020

Pajak Smart

Pajak Smart

SELASA, 29 SEPTEMBER 2020

Makin Diserang, KAMI Makin Terbang

Makin Diserang, KAMI Makin Terbang

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020

Kebangkitan PKI Itu Keniscayaan

Kebangkitan PKI Itu Keniscayaan

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020

Hujatan Tahunan

Hujatan Tahunan

SENIN, 28 SEPTEMBER 2020

Angkamologi Lima

Angkamologi Lima

SABTU, 26 SEPTEMBER 2020

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

Karangan Bunga Duka Cita Wartawan Balaikota

JUM'AT, 14 AGUSTUS 2020 , 06:40:00

Balkoters Berkurban

Balkoters Berkurban

SABTU, 01 AGUSTUS 2020 , 11:16:00

Danjen Kopassus Tutup Pendidikan Komando Angkatan 104