Terima Kasih Pak Anies

Suara Rakyat  KAMIS, 15 OKTOBER 2020 , 14:29:00 WIB

Terima Kasih Pak Anies

Kartu Jaklingko/Net

SELESAI naruh mobil di bengkel di kawasan Bintaro, saya naik angkot. Kenapa naik angkot, nggak naik Grab Car? Alasan ekonomis di masa pandemi. Hehe..

Tepatnya, ingin merasakan suasana sosial yang lebih plural dengan para penumpang angkot yang lain. Di angkot ada sensasi dan inspirasi tersendiri. Ini nggak ditemukan saat naik mobil pribadi atau Grab Car.

Duduk di depan, persis samping mas sopir. Satu per satu penumpang di belakang nyerahin kartu. Oleh sopir kartu itu di tempel di mesin kecil yang ada di depan. Bunyi tiiit. Lalu, kartu itu dikembalikan satu per satu ke para penumpang.

Giliran ke saya sopir nanya: mana kartunya pak? Kartu apa? Saya balik nanya. Aku nggak punya kartu angkot, Jawabku. Kalau nggak punya kartu, nggak bisa pak. Katanya. Oh, kalau gitu, aku turun depan.

Ketika angkot berhenti, aku tanya lagi sebelum turun. Kalau kartu e-toll bisa? Bisa pak. Mandiri dan lain-lain. Jawab sopir itu. Oh, kalau gitu, aku punya kartu e-toll Mandiri.

Segera aku keluarin dari dompet, dan kartu ditempel di mesin kecil di depan sopir. Ternyata, bisa! Alhamdulillah, ucapku. Aku nggak jadi turun. Mobil jalan lagi.

Ini gratis pak. Sudah dua tahun. Sopir kasih Info. Seketika, insting investigatorku on. Ada dorongan untuk wawancara ke sopir angkot. Penasaran. Maklum, insting wartawan!

Ini betul gratis? Tanyaku lagi. Betul! 0 rupiah bayarnya. Sopir itu menjawab. Aku lihat di mesin, betul. Angka 0.

Berarti digaji bulanan ya mas? Tanyaku lagi. Berapa gaji sebulan? 4,2 juta, katanya. Oh, gaji tetap, nggak dikejar setoran, kerja dengan tenang. Sahutku. Sopir mengangguk.

Kutanya sopir lagi, ada berapa jumlah angkot yang gratis di DKI? Dia beri rincian per rute. Hapal betul sopir ini. Anda sopir atau pengusaha angkot? Gumam dalam hatiku. Totalnya, kata si sopir, ada ratusan angkot Jaklinko di DKI. Gratis. Ini luar biasa!

Sampai di Lebak Bulus, aku turun. Semua penumpang, tanpa terkecuali mengucapkan terima kasih ke mas sopir. Gratis, bawa angkotnya santai dan komunikasinya santun.

Bagiku, ini bukan hanya soal gaji, angkot dan sopir. Tapi ini soal perilaku. Semua jadi berubah. Dengan gaji tetap, sopir tak lagi kejar setoran. Tak perlu zig zag, potong jalan, ngebut dan ngerem memdadak yang bisa membahayakan penumpang dan pemakai jalan yang lain. Mobil terawat, nyaman di jalan, gratis pula.

Ada sekitar 1 juta warga Jakarta yang menggunakan angkot setiap harinya. Jika semakin banyak warga menggunakan jasa angkot, maka akan berpengaruh pertama, pada kemacetan. Akan sangat berkurang. Kedua, lebih ekonomis. Gratis, nggak perlu boros bensin. Kalau harus naik bus way atau MRT, murah sekali bayarnya. Sangat terjangkau oleh karyawan dengan gaji rendahan. Ketiga, angkot jadi tempat plural dan heterogen dalam interaksi dan pergaulan. Semua identitas dan status sosial melebur dalam satu lingkungan interaksi. Di tempat publik ini, ego status runtuh. Orang nggak kenal direksi, komisaris atau manajer. Yang mereka lihat adalah penumpang angkot.

Sekali lagi, ini bukan hanya soal angkot yang gratis. Tapi ini soal pluralitas, pembauran sosial dan terapi mental yang berefek pada terurainya kemacetan dan juga managemen ekonomi keluarga. Banyak hal positif yang bisa diurai dari program Jaklinko ini.

Program Jaklingko DKI sangat baik, proper dan bisa di-copy paste untuk daerah-daerah lain, terutama perkotaan yang padat penduduk dan macet.

Terima kasih Mas Sopir. Terima kasih Pak Gubernur DKI. Anda telah membuat banyak perubahan di DKI. Tidak hanya perubahan kota, tapi perubahan mental dan perilaku warga.[dod]

Tony Rosyid Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Komentar Pembaca
Bengkel Di Setiabudi Terbakar

Bengkel Di Setiabudi Terbakar

MINGGU, 04 OKTOBER 2020 , 17:51:00

Stadion Patriot Disulap Jadi RS Darurat

Stadion Patriot Disulap Jadi RS Darurat

JUM'AT, 11 SEPTEMBER 2020 , 19:22:00

Bangunan Ruko Di Cideng Ambruk

Bangunan Ruko Di Cideng Ambruk

KAMIS, 03 SEPTEMBER 2020 , 17:03:00